Selasa, 06 September 2016

Contoh Pidato Bulan Bahasa

Pidato Bulan Bahasa
Oleh: Dhani Susilowati

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Yang terhormat Rektor Universitas PGRI Semarang, Dr. Muhdi, S.H., M.Hum.
Yang saya hormati Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dra. Sri Suciati, M.Hum.
Yang saya hormati Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, Dra. Asropah, M.Pd
Yang saya hormati Kaprogdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Ibu Nanik Setyawati, S.S., M.Hum.
Yang saya hormati Sekprogdi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,  Bapak Mukhlis, S.Pd., M.Pd.
Yang saya hormati seluruh Dosen Universitas PGRI Semarang
Yang saya hormati juri lomba baca puisi tingkat SMP se- Jawa Tengah
Yang saya hormati peserta lomba baca puisi tingkst SMP se-Jawa Tengah beserta guru pendamping
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang saya banggakan       

Marilah kita mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya kita dapat berkumpul di GP 7 dengan keadaan sehat dalam rangka lomba baca puisi tingkat SMP se- Jawa Tengah.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Agung, Nabi Muhammad SAW. Semoga kita menjadi salah satu orang yang diberikan syafaatnya di hari akhir nanti.
Hadirin yang berbahagia,
Delapan puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928 terjadi peristiwa sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia yaitu sumpah pemuda. Dalam sumpah pemuda ini diikrarkan bahwa seluruh pemuda Indonesia bertumpah darah satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Namun seperti yang hadirin ketahui, rasa cinta terhadap bahasa Indonesia mulai berkurang. Generasi muda terkadang lebih sering membanggakan bahasa asing daripada bahasa Indonesia. Hal ini menciptakan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama di Universitas PGRI Semarang. Oleh karena itu, HIMA PBSI bekerjasama dengan Universitas PGRI Semarang mengadakan lomba baca puisi tingkat SMP se- Jawa Tengah. Lomba baca puisi ini diselenggarakan dalam rangka bulan bahasa Universitas PGRI Semarang. Dengan  lomba baca puisi, generasi penerus bangsa diharapkan dapat meningkatkan kecintaan terhadap bahasa nusantara dan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa.
Tema lomba baca puisi kali ini yaitu “Meningkatkan Rasa Nasionalisme Melalui Pembacaan Puisi”. Lomba diikuti oleh 200 orang peserta yakni siswa SMP se- Jawa Tengah. Hasil lomba akan ditentukan oleh 3 orang juri diantaranya Bapak Setia Naka Andrian, S.Pd.,M. Pd.;  Dr. Harjito, M. Hum.; Bapak Zainal Arifin, S.Pd, M.Hum. Juara pertama akan mendapat hadiah berupa tropi penghargaan dan uang sebesar Rp. 3.000.000,00. Juara kedua mendapat tropi dan uang sebesar Rp. 2.000.000,00. Juara ketiga mendapat tropi dan uang sebesar Rp. 1.000.000,00.
Hadirin yang berbahagia,
Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada pihak Universitas yang telah membantu baik secara moral maupun material demi terlaksananya kegiatan ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada hadirin yang bersedia hadir pada acara ini.
Demikian yang dapat saya sampaikan, apabila ada kesalahan saya mohon maaf.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Artikel: Pengenalan Budaya Lokal Melalui Sastra


Pengenalan Budaya Lokal Melalui Sastra
Oleh: Dhani Susilowati


            Acap kali sastra dianggap remeh oleh masyarakat dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang lain, seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial dan bahasa asing. Di mata masyarakat bahasa Inggris dipandang lebih hebat daripada bahasa Indonesia dan sastra. Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengenal sastra sebagai sarana untuk mendapatkan sebuah hiburan. Namun sebenarnya mereka tidak mengerti arti sastra yang sesungguhnya. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang” begitulah anggapan masyarakan Indonesia mengenai sastra.
Apa Itu Sastra?
            Sastra merupakan sesuatu yang disampaikan oleh penulis, berupa gagasan atau perasaan yang disampaikan dengan medium bahasa baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Sastra sering kali disebut sebagai media untuk mengungkapkan perasaan dan emosi  penulis. Berdasarkan jenisnya, sastra dibagi menjadi tiga yaitu puisi, prosa dan drama.
 Puisi adalah sebuah karya sastra berupa tulisan, yang menggunakan bahasa sebagai unsur estetika dan penentu makna. Diksi dalam puisi menjadi sangat penting untuk menentukan makna dan memperindah puisi. Lain dengan puisi, prosa merupakan karya sastra yang berbentuk cerita bebas. Bebas dalam arti tidak terikat oleh banyaknya baris, banyaknya suku kata dalam setiap baris serta tidak terikat oleh rima. Rima adalah pengulangan bunyi baik di larik sajak maupun di akhir sajak yang berdekatan. Sedangkan drama yaitu karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan melibatkan gerak. Drama tidak hanya berbentuk teks, tetapi berupa pementasan.
Kegunaan Sastra
            Tentu sastra memiliki peran penting dalam suatu masyarakat. Itulah sebab sastra tidak bisa dianggap sepele oleh masyarakat. Karya sastra dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan. Seperti yang dikenal oleh masyarakat awam bahwa sebuah karya sastra dibuat untuk dibaca ataupun dinikmati oleh orang lain. Kisah-kisah yang disajikan dalam karya sastra yang berdasar pada kehidupan dapat membuat seseorang tertarik untuk membaca atapun menyaksikan jika itu merupakan sebuah penampilan.
Selain sebagai sarana hiburan, karya sastra dapat memperkaya pengetahuan. Dari sebuah karya sastra, masyarakat bisa menambah wawasan atau informasi baru dengan cara memahami gagasan maupun keadaan yang dituliskan oleh penulis di dalam karya sastra. Oleh karena itu, penulis dituntut untuk mencari data dan informasi yang benar sebelum menulis agar tulisannya tidak hanya berdasar dari imajinasi penulis saja.
Karya sastra dapat dijadikan sebagai pembanding antara kehidupan sosial budaya masyarakat. Melalui sastra kita dapat mengetahui keadaan masyarakat zaman sekarang dan masyarakat zaman dahulu. Tentu dengan cara membandingkan karya sastra yang ditulis zaman dahulu dan karya sastra yang ditulis pada saat ini, akan terlihat secara jelas keadaan suatu masyarakat.
Sebuah karya sastra juga dapat memperkaya penjiwaan atau emosi. Berdasarkan cerita dalam sebuah karya sastra, pembaca mampu menghayati dan seolah-olah merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh di dalam cerita. Bahkan sering kali seseorang menangis ketika membaca cerpen ataupun novel yang mengisahkan tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Imajinasi dan rasa penasaran sering kali dapat ditumbuhkan melalui kebiasaan seseorang membaca karya sastra. Misalnya ketika seseorang membaca novel, pasti secara sadar maupun tidak sadar ia akan berimajinasi, entah tentang tokoh, tempat yang diceritakan ataupun suasana dalam cerita. Seorang pembaca juga kerap kali menebak akhir dari sebuah cerita. Karya sastra yang menarik merupakan karya sastra yang ceritanya tidak mudah ditebak oleh pembaca.
Sastra mengenalkan budaya  lokal
Harus diakui bahwa di Indonesia masalah pelestarian budaya dan kegiatan pendukungnya masih sangat minim. Beberapa kasus yaitu diakuinya budaya lokal Indonesia oleh pemerintahan Malaysia. Hal itu disebabkan kurangnya pengenalan budaya lokal dan upaya perlindungan oleh pemerintah. Bagaimana masyarakat Indonesia bagian timur mengetahui budaya dari masyarakat Indonesia bagian barat atau sebaliknya, jika tidak ada upaya pengenalan budaya dari tiap-tiap daerah. Bisa jadi masyarakat Indonesia tidak mengenal budaya yang ada di negaranya sendiri. Lalu bagaimana mungkin mereka akan melestarikan suatu budaya ketika mereka tidak mengenalnya.
Sastra erat kaitannya dengan unsur  kebudayaan. Melalui sastra, dikenalkan kepada pembaca tentang pelbagai budaya yang ada di nusantara. Beraneka ragam budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke diantaranya kebudayaan Jawa, kebudayaan Bali, kebudayaan Minangkabau dan lain sebagainya.
Penjelasan mengenai budaya bisa dilakukan dengan menggunakan media sastra baik berupa lisan maupun tulisan. Dengan membaca karya sastra baik itu puisi, prosa maupun drama, seseorang mampu mengetahui keadaan alam, mitos, sejarah serta kebudayaan di suatu daerah.
Keadaan alam suatu daerah dijelaskan dalam puisi, misalnya puisi Memburu Sunset karya Moh. Wan Anwar. Puisi Memburu Sunset menceritakan tentang dua orang, lelaki dan perempuan yang tengah menunggu sunset di tepi pantai. Namun seorang perempuan terlebih dahulu meninggalkan sang lelaki yang masih bersikeras menunggu. Dalam puisi itu digambarkan dengan jelas indahnya suasana di pantai ketika sore hari.
Suatu budaya biasany aerat kaitannya dengan mitos. Mitos suatu daerah dapat dijelaskan melalui artikel dan esai. Artikel tentang mitos misalnya Mitos Wonosobo Sebagai Kota Terlarang dan Keindahan dan Mitos Kawah Sleri di Dataran Tinggi Dieng. Adapun esai yang membahas tentang mitos di antaranya: Mitos Lawang Sewu Semarang dan Mitos Indonesia. Esai Mitos Indonesia dimuat dalam Harian Kompas, 19 Mei 2010.
Sejarah suatu daerah dapat dikisahkan melalui artikel, esai, legenda, puisi dan drama. Esai yang memuat mengenai sejarah misalnya Sejarah Candi Gedong Songo di Semarang, Sejarah Berdirinya Candi Dieng Wonosobo dan Wisata Sejarah di Museum Fatahillah Jakarta. Adapun contoh artikel mengenai sejarah di antaranya: Sejarah Agama Hindu di Bali, Sejarah Bahasa Suku Bali dan Air Terjun 7 Bidadari Sumowono di Jawa Tengah. Sejarah juga bisa dicerminkan melalui puisi yaitu puisi Diponegoro karya Chairil Anwar. Sejarah sangat berperan penting agar masyarakat lebih menghargai apapun yang ada dalam suatu daerah.
Sastra dapat menjelaskan kebudayaan suatu daerah melalui cerpen, drama, artikel, dan esai. Cerpen berjudul Gadis 360 Hari yang Lalu karya Sayfullan, mengenalkan unsur budaya jawa yaitu aksara Jawa. Drama atau film Tenggelamnya Kapal Van Der Wick yang diadaptasi dari novel lawas pada tahun 1938 karangan Haji Abdul Malik Karim (HAMKA),  juga berperan penting dalam menggambarkan kebudayaan di daerah Minangkabau. Adanya artikel Mengenal Budaya Suku Dani Papua juga membuat masyarakat Indonesia di luar papua menjadi tahu mengenai kebudayaan suku tersebut. Karya sastra berupa esai berjudul Manusia Sunda menceritakan dengan jelas bagaimana budaya dan kehidupan masyarakat suku Sunda. Pengenalan kebudayaan melalui sastra akan menciptakan manusia-manusia yang bersahabat dengan budaya.
Pengenalan budaya lokal melalui karya sastra dapat meningkatkan rasa cinta tanah air. Di zaman sekarang, terkadang masyarakat Indonesia lebih bangga terhadap budaya luar dibandingkan budaya sendiri, terutama para public figure. Sering kali mereka mengekspos kegiatan wisata mereka di luar negeri atau memamerkan foto-foto mereka di media sosial seperti instagram, facebook, dll. Hal itu terjadi karena kurangnya pengetahuan masyarakat indonesia mengenai budaya lokal. Terkadang wisata-wisata lokal tertentu kurang dipromosikan melalui media sosial.

Sastra berperan sangat besar terhadap upaya pengenalan budaya lokal Indonesia kepada masyarakat Indonesia maupun masyarakat manca negara. Ketika budaya lokal berhasil dikenalkan, bukan hal yang sulit untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang terkenal kaya budaya di kalalangan masyarakat dunia. Sejatinya warisan budaya nasional atau warisan budaya bangsa adalah cermin tingginya peradaban suatu bangsa. Budaya sebagai identitas suatu bangsa harus dikenalkan kepada dunia.

Artikel: Menapaki Jejak Sejarah di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita

Menapaki Jejak Sejarah di Museum Jawa Tengah  Ranggawarsita
Oleh: Dhani Susilowati

Manusia cerdas adalah manusia yang mampu berproses. Ia belajar dari sejarah orang-orang terdahulu. Dari situlah sebuah proses pembelajaran bermula. Jika seseorang enggan menelaah lebih dalam perihal sejarah, ia akan berkembang tanpa sebuah dasar. Ia juga tidak dapat membedakan bagaimana manusia terdahulu dengan manusia modern yang berkembang saat ini.
            Permasalahan yang timbul pada masyarakat modern yaitu tidak menyukai hal-hal yang berkaitan dengan sejarah,  dengan alasan materi sejarah yang membosankan dan banyak hafalan mengenai nama tokoh dan tahun kejadian sebuah peristiwa. Sebenarnya, seseorang dapat belajar sejarah dengan media rekreasi yang berbasis pendidikan. Misalnya, rekreasi  di museum. Hal itu, akan lebih menarik dibandingkan dengan menghafal materi dalam buku sejarah. Di Jawa Tengah telah tersedia Museum Ranggawarsita yang akan membantu proses pengenalan sejarah pada generasi modern.

            Museum Jawa Tengah Ranggawarsita merupakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka pelestarian budaya dan media pembelajaran. Museum tersebut, menyediakan koleksi sebanyak 59.802 buah benda-benda peninggalan sejarah. Pengunjung dapat berwisata sambil mempelajari benda-benda peninggalan sejarah Indonesia sekaligus melihat bukti peninggalan sejarah tersebut. Maka dari itu, generasi modern tidak lagi buta akan sejarah yang menjadi aset berharga bagi bangsa Indonesia, melainkan memahaminya. 

Resensi Cerpen Layung

Menelaah Lebih Dalam Cerpen Layung
Oleh: Dhani Susilowati




 Judul       : Layung
Penulis    : Zahratul Wahdati, dkk.
Penerbit : Komojoyo Press
Cetakan  : Cetakan pertama Februari 2016
Tebal       : XIV+ 146 halaman
ISBN        : 978-602-73680-6-4




           Seperti disuguhi teka-teki yang harus saya pecahkan. Begitulah yang terjadi ketika saya membaca cerpen “ Layung” karya Zahratul Wahdati. Saya geram dan kadang menerka-nerka bagaimana akhir cerita dalam cerpen ini, tetapi nyatanya dugaan saya tentang akhir cerita tidak sama dengan akhir yang dikisahkan oleh penulis. Ini yang membuat cerpen “Layung” sangat menarik. Akhir dalam cerita tidak mudah ditebak oleh pembaca. Cerita yang dipaparkan oleh penulis, juga tidak terkesan membosankan, karena cerita semacam ini,  jarang diangkat atau dikisahkan oleh penulis lain.
            Selain itu, saya merasa lebih menikmati dalam membaca cerpen ini, karena saya (pembaca) ikut dilibatkan dalam cerita. Seperti kutipan berikut:
“Namun, akan kucoba ceritakan seperti apa sosok hitam itu, agar kau percaya bahwa cerita ini benar-benar terjadi. Bukan khayalanku.”
Bukankah pembaca akan semakin tertarik untuk membaca sebuah cerita ketika ia dilibatkan?
            Nah! Ada lagi yang lebih menarik pada cerpen ini. Ketika pembaca telah dilibatkan, penulis juga membuat pembaca semakin terjerumus dalam cerita tersebut. Dalam memaparkan cerita ini, penulis menggambarkan suasana dalam cerita dengan sangat apik. Sehingga pembaca seolah-olah ikut merasakan suasana yang terjadi di dalam cerita. Seperti kutipan berikut:               
“Sejak sosok hitam itu berdiri di sisi kiriku, menangkap napas pun aku kesulitan. Tubuhku terus menggigil. Aku memejamkan mata, tetapi tak berhasil. Kadang, tak sengaja aku mengintip dan menemukan sosok hitam itu semakin mengerikan setiap harinya. Bentuknya tinggi dan besarnya berkali lipat pohon randu tua di belakang rumahmu. Tubuhnya gelap lebih pekat berkali lipat suasana ketika malam hari dan PLN mencabut sambungan listrik desa. Matanya berkali lipat seperti bola kasti yang dicelupkan ke aspal cair. Gelap pekat. Kuputiskan memakai kain hitam tebal untuk menutupi mataku.”
Pastilah pembaca akan merinding jika membayangkan betapa ngerinya sosok hitam yang ada di sebelah kiri Layung. Menurut saya, teknik penulis dalam mendeskripsikan suasana terbilang sukses.
            Cerpen “Layung” menyuguhkan konflik batin yang hebat pada tokoh Layung dalam cerita ini. Bagaimanapun upaya seseorang  untuk menutupi kenangnnya, saya kira tidak akan berhasil. Menurut pendapat saya, kenangan memang tidak diciptakan untuk dilupakan, tetapi untuk dijadikan pelajaran yang berharga di masa depan. Seperti Layung yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak kembali pada kenangannya yaitu Ibu, demi menjaga posisinya yang tinggi.
            Namun, jika dilihat dari segi pesan moral (amanat), tentu cerpen ini banyak mengajarkan pelajaran yang berharga untuk pembaca. Misal, meskipun seorang ibu berlaku tidak menyenangkan kepada kita, tentu saja kita harus tetap mengakuinya. Tidak seperti Layung yang memilih meninggalkan ibunya karena salah paham bahwa ibu telah membunuh adiknya, Demi.  Begitu pula dengan sosok ibu, seorang ibu, hendaknya menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk anaknya, bukan menjadikan rumah seperti neraka. Sebagaimana kutipan berikut:
“Rumah itu masih kusebut neraka, tempatmu berpelukan dengan lelaki yang setiap hari berbeda. Tempat yang kutolak kusebut rumahku.”
Tentu, masih banyak pesan moral lainnya yang disampaikan penulis melalui cerpen ini.
            Membahas cerpen “Layung” memang penuh dengan keindahan. Penulis menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Meskipun demikian, ada beberapa kesalahan dalam penulisan, seperti penulisan kata “piyama” yang seharusnya ditulis “piama” dan penulisan kata “digubis” yang saya kira maksudnya adalah “digubris”, serta kata “supir” yang seharusnya ditulis “sopir”. Terkadang penulis memang melakukan kesalahan dari segi penulisan, misalnya typo atau kesalahan EYD. Maka dari itu, seyogyanya seorang penyunting lebih jeli dalam meneliti teks.
            Satu lagi yang perlu diperhatikan penulis dalam cerpen ini. Logika cerita. Saya menemukan keganjalan pada tokoh Layung. Seperti kutipan berikut:
                                    “Dengan menggunakan motor, aku menjauh dari kau.”
Mengapa Layung harus pergi dengan mengendarai motor? Sedangkan ia orang yang mampu dan berpangkat tinggi. Dia adalah seorang Bos dari sebuah perusahaan, ia juga memiliki seorang supir yang siap mengantarnya kemanapun ia pergi. Mengapa Layung masih mengendarai motor? Bukankah akan lebih pantas jika dia mengendarai mobil?
            Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan pada cerita ini, tentu cerpen “Layung” yang telah dinobatkan sebagai juara pertama dari Lomba Antologi Cerpen UKM KIAS Se-Universitas PGRI Semarang, memberikan kesan yang berbeda pada setiap pembaca. Namun, bagi saya, cerpen ini luar biasa.

Folklor: Penelitian Legenda Desa Kalidadap

  
LAPORAN PENELITIAN FOLKLOR
“Legenda Desa Kalidadap, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo”



Disusun Oleh:
Dhani Susilowati  (15410227)


PROGDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Akhir-akhir ini, banyak generasi muda yang lupa akan identitasnya. Bukan identitas seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Identitas yang dimaksud dalam hal ini adalah asal-usul. Tidak sedikit generasi penerus bangsa yang bersembunyi ketika ditanya bagaimana asal-usul negaramu? Asal-usul negara mungkin dapat dipelajari melaui pelajaran sejarah, oleh karena itu, masih banyak generasi muda yang mengerti tentang sejarah Indonesia.
Namun, ketika pertanyaanya diubah menjadi, bagaimana asal-usul sukumu atau bagaimana asal-muasal daerah tempat tinggalmu? Meskipun mereka terlihat sangat dekat dan cinta dengan daerah asalnya, akan tetapi tidak jarang dari mereka yang tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan tersebut.
Cerita kedaerahan yang sudah mulai luntur di kalangan masyarakat memicu lunturnya kecintaan terhadap daerah asal. Hal itu akan menciptakan generasi muda yang lupa akan jati dirinya. Berkurangnya penutur cerita tradisional kedaerahan juga memicu hilangnya budaya yang telah ada sejak zaman nenek moyang.
Dalam hal ini, permasalahan yang dihadapi masyarakat dikaitkan dalam kajian folklor. Folklor mempelajari kebudayaan tradisional baik lisan, sebagian lisan dan bukan lisan. Cerita kedaerahan yang bersifat lisan seperti asal-usul suatu daerah (legenda) dikaji dalam folklor.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, masalah yang dibahas dalam penelitian ini yaitu pengungkapan legenda Desa Kalidadap, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Rumusan masalah dibuat dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1.         Apa yang anda (narasumber) ketahui mengenai legenda (asal-usul) Desa Kalidadap?
2.         Kapan tepatnya Desa Kalidadap terbentuk?
3.         Siapa pendiri atau penemu Desa Kalidadap?
4.         Mengapa cerita ini masih tetap ada di masyarakat dan turun temurun dari generasi ke generasi?



C.     Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan memahami legenda Desa Kalidadap, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.
D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan kebudayaan lisan yang belum pernah dibukukan dan tidak diketahui pengarangnya (anonim). Selain itu, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan untuk generasi muda agar semakin mengenal identitas dirinya.


BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

A.      Metode Pengumpulan Data
Metode penelitian ini mengkaji legenda Desa Kalidadp, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo yang termasuk contoh dari folklor sebagian lisan.  Dalam penelitian ini digunakan metode wawancara. Proses tanya jawab dilakukan dengan memilih narasumber warga setempat yang telah lama mejadi masyarakat Desa Kalidadap.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan hasil jawaban dari tiga narasumber. Ketiga narasumber tersebut diantaranya Mbah Kasmorejo, Bapak Mismanto dan Bapak Jumadi. Masing-masing narasumber adalah warga masyarakat asli Desa Kalidadap yang tergolong 
Mbah Kasmorejo merupakan penduduk asli Desa Kalidadap yang telah berusia 78 tahun. Narasumber kedua, Bapak Mismanto juga penduduk asli Desa Kalidadap tetapi beliau telah lama merantau di Kalimantan. Meskipun demikian beliau tidak melupakan asal-usul desanya. Saat ini Bapak Mismanto berusia 47 tahun. Sedangkan narasumber ketiga merupakan ketua RT 01 RW 01 Desa Kalidadap. Beliau bernama Bapak Jumadi. Usianya mendekati 64 tahun.
  Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Observasi langsung dengan wawancara. Teknik Observsi  langsung merupakan teknik penjaringan data melalui percakapan antara peneliti dan informan (narasumber). Pelaksanaan teknik ini dilakukan dengan cara tanya jawab langsung sesuai dengan data pertanyaan yang telah dipersiapkan.
Dalam penelitian ini, data disajikan secara kualitatif. Penelitian kualitatif dipandang sebagai pencari tahu alami dalam pengumpulan data. Penelitian kualitatif merupakan bentuk penelitian yang menggambarkan suatu keadaaan dengan uraian. Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Oleh karena itu, data yang akan dikumpulkan tidak menggunakan angka-angka atau perhitungan, melainkan mengacu pada makna atau pemahaman terhadap interkasi terhadap konsep data yang dianalisis. Dengan demikian data dianalisis dalam bentuk uraian dalam bentuk kata-kata atau kalimat.
Pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri berlatar alamiah, bersifat deskriptif, lebih mengutamakan proses daripada hasil, dan analisis data bersifat induktif (Bogdan dan Biklen, 1982 dalam Djajasudarma,1994). Berlatar alamiah, maksudnya data penelitian bersumber dari peristiwa- peristiwa komunikasi dan situasi alamiah yang berlangsung di masyarakat Desa Kalidadap. Bersifat deskriptif, maksudnya data dikumpulkan berbentuk deskripsi wacana. Data dilengkapi dengan konteks terjadinya interaksi. Pendeskripsian konteks diupayakan hingga menyentuh hal-hal kecil, seperti waktu, tempat, dan kedudukan partisipan. Hasil analisis data dilaporkan dalam bentuk deskripsi fenomena yang terjadi, artinya hasil analisis dipaparkan sesuai dengan temuan di lapangan.
            Lebih mengutamakan proses daripada hasil, maksudnya dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya  kegiatan pengumpulan lebih diorientasikan pada proses. Pengorientasian tersebut, misalnya pengupayaan waktu pelaksanaan pengumpulan data yang bersifat fleksibel. Karena itu, jadwal tidak dijadikan target. Demikian halnya dengan perolehan data, baik jenis maupun jumlahnya tidak didasarkan pada perencanaan atau target tertentu. Analisis data bersifat induktif, maksudnya penelitian ini tidak diarahkan untuk memperkuat atau menolak hipotesis tertentu. Karena itu, paparan hasil analisis penelitian yang berkaitan dengan legenda Desa Kalidadap lebih didasarkan pada data alamiah yang terkumpul di lapangan.

B.       Pengolahan Data
Penelitian ini menggunakan metode wawancara. Kemudian diperoleh data sebagai berikut:
Pertanyaan dan jawaban
1.         Apa yang anda ketahui mengenai asal-usul Desa Kalidadap?
Jawaban:           
a.       Desa Kalidadap ini awalnya adalah hutan belantara yang tidak dihuni oleh siapa pun.
b.      Desa ini diberi nama Desa Kalidadap karena orang yang membuka desa ini, dulunya menemukan sebuah sungai yang pinggir-pinggirnya ditumbuhi pohon dadap.
c.       Kalidadap berasal dari dua kata yaitu “kali” dan “dadap”. Kali berarti sungai sedangkan dadap adalah nama sebuah pohon. Sebab ada pohon dadap yang tumbuh di tepi-tepi sungai, maka pendiri desa ini memberi nama Desa Kalidadap.
2.         Kapan tepatnya Desa Kalidadap terbentuk?
Jawaban:
a.    Saya tidak lupa meskipun saya sudah tua. Namun sejak saya kecil dulu, orang tua saya memang tidak pernah dikisahkan kapan desa ini muncul, yang jelas desa ini sudah ada dan sudah bernama.
b.    Desa Kalidadap sudah ada sejak sangat lama, saya tidak tahu tepatnya kapan.
c.    Meskipun saya resmi sebagai ketua RT di desa ini dan sudah menjabat sepuluh tahun, tapi jujur saja saya tidak tahu sejak kapan desa ini ada. Sebenarnya dalam jurnal Desa Kalidadap memang tidak tercantum tahun berdirinya desa ini. Saya pernah membaca jurnal yang ada di Kantor Kelurahan yang sengaja ditunjukkan oleh Bu Lurah kepada seluruh pejabat desa. Tetapi memang hanya ada sejarah Desa Kalidadap yang dibukukan berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat.
3.         Siapa pendiri atau penemu Desa Kalidadap?
Jawaban:
a.    Kalidadap tidak serta-merta ditemukan, melainkan diciptakan atau dibagun dengan perjuangan leluhur desa. Beliau adalah Mbah Larasati dan Mbah Tunggul Wulung.
b.    Desa Kalidadap didirikan oleh Dewi Sri Larasati dan Tunggul Wulung. Biasanya masyarakat desa lebih mengenalnya dengan sebutan Mbah Larasati dan Mbah Tunggul Wulung. Mbah Larasati itu bukan sembarang orang, beliau sakti karena sebelum benar-benar menjadi manusia beliau adalah dewi. Namun sayang sekali, beliau diturunkan ke bumi lantaran tidak disenangi.
c.    Mbah Dewi Sri Larasati dan Mbah Tunggul Wulung adalah sepasang manusia yang pertama kali mempunyai gagasan untuk membangun hutan belantara menjadi sebuah desa. Maka jadilah Desa Kalidadap. Dulunya tentu saja tidak seperti keadaan sekarang ini.
4.         Mengapa cerita ini masih tetap ada di masyarakat dan turun temurun dari generasi ke generasi?
Jawaban:
a.       Memang harusnya cerita seperti ini tidak boleh dilupakan oleh anak cucu yang menjadi pemuda-pemudi desa ini. Tetapi kenyataannya sudah banyak yang anak muda yang tidak paham jika ditanya asal-usul Desa Kalidadap. Namun, masih banyak juga yang hapal betul cerita desa ini. Saya sebagai orang tua khususnya sering menyebarkan cerita ini dengan cara mendongeng pada anak-anak saya sebelum mereka tidur. Jika saat ini kadang-kadang saya bercertita tentang desa ini zaman dulu kepada cucu saya saat menemani mereka bermain.
b.      Cerita ini mamang sudah seharusnya menjadi obrolan dan cerita menarik di kalangan masyarakat desa. Pasalnya cerita inilah yang menjadi sejarah desa ini. Sejarah sama halnya dengan aset berharga yang harus dipahami dan dipelajari oleh para pemuda dan pemudinya.
c.       Cerita ini memang masih ada di masyarakat, tapi tampaknya sudah mulai luntur. Saya sendiri tidak tahu penyebab pastinya. Tapi saya kira cerita itu luntur karena tidak adanya pencerita yang benar-benar paham dan mau menceritakannya kepada generasi muda. Bukan semata-mata kesalahan dari orang tua yang tidak mau menyebarkan cerita ini kepada anak-anaknya, tetapi perkembangan teknologi pula yang menyebabkan kurangnya minat generasi muda terhadap cerita-cerita seperti ini.

Keterangan:
a.       Jawaban dari Mbah Kasmorejo (narasumber)
b.      Jawaban dari Bapak Mismanto (narasumber)
c.       Jawaban dari Bapak Jumadi      (narasumber)

Dari jawaban para narasumber terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, cerita legenda Desa Kalidadap dapat dirangkai secara utuh. Berikut rangkaian cerita Legenda Desa Kalidadap:



Legenda Desa Kalidadap

Pada zaman dahulu hiduplah seorang wanita muda bernama Dewi Sri Larasati. Larasati sebenarnya adalah seorang dewi yang dirutunkan dari kahyangan lantaran sudah tidak disegani oleh dewi-dewi lainnya. Dewi Larasati kemudian dikutuk menjadi manusia dan diturunkan ke bumi.
Larasati tidak mengerti tempat-tempat yang ada di bumi, yang dia tahu hanyalah hutan belantara tempatnya pertama kali menginjak bumi. Oleh sebab rasa takut, ia pun terus berjalan berniat keluar dari hutan itu. Namun, tanaman-tanaman hijau yang menjulang tinggi dan rimbun itu tampak tidak pernah habis. Dia tidak bisa keluar dari hutan belantara.
            Setelah berjalan lama, akhirnya Larasati menemukan sungai (saat ini bernama Sungai Lokulo). Hatinya sangat senang karena berpikir akan segera keluar dari hutan. Dia mempercepat jalannya hingga sampai di tepi sungai. Di sana, dia menemukan seorang manusia laki-laki yang sedang duduk di bawah pohon dadap. Lalu Larasati menghampiri  lelaki itu dan terjadilah perkenalan.
            Lelaki itu bernama Tunggul Wulung, manusia pengembara yang tersesat dan berharap keluar dari hutan belantara. Harapan Larasati dan Tunggul Wulung pupus mengingat pengalaman mereka berdua yang tidak kunjung menemukan jalan keluar. Larasati berjalan dari arah utara dan berhenti di Sungai Lokulo setelah berbulan-bulan tidak bisa keluar dari hutan. Begitu pun dengan Tunggul Wulung yang berjalan dari arah selatan dan tidak menemukan jalan keluar.
            Larasati dan Tunggul Wulung pada akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Sebab tidak ada manusia lain yang bersama mereka saat itu, lalu mereka berdua memutuskan untuk menikah dan hidup bersama sebagai pasangan. Untuk melindungi diri dari serangan binatang buas, mereka mendirikan rumah dari kayu yang berada di sebelah selatan Sungai Lokulo.
Selang beberapa puluh tahun, mereka telah memiliki banyak anak dan hidup bahagia di hutan itu. Sekarang hutan itu pun sudah tidak melulu kayu-kayu besar, ada pula rumah-rumah dengan berbagai aktivitasnya. Anak-anak kecil bermain di sungai sambil mencari ikan, wanita yang sudah menjadi ibu memasak di tanah lapang untuk santapan para lelaki setelah pulang berburu.
Nah! pada perkumpulan makan besar di tengah lapang, seseorang bertanya perihal nama tempat yang mereka tinggali. Semua anak mendadak bingung dan meminta jawaban dari ibu mereka masing-masing. Ibu mereka pun bingung dan pertanyaan yang asama akhirnya ditujukan pada Larasati dan Tunggul Wulung. Sepasang manusia itu telah berganti panggilan menjadi Mbah Larasati dan Mbah Tunggul Wulung pun bingung.
Maka pada akhirnya mereka berdua jujur pada anak cucu mereka, bahwasannya memang tempat yang mereka tinggali dari dulu belum bernama. Kemudian semua orang yang hadir dalam makan besar itu berdiskusi untuk memberi nama tempat tersebut.Pada akhirnya tempat itu diberi nama Desa Kalidadap. Nama tersebut muncul dari awal pertemuan Mbah Larasati dan Mbah Tunggul Wulung di tepi sungai, tepatnya di bawah pohon dadap.

C.                 Pengalaman Berharga
 Penelitian ini tentunya memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi peneliti. Dimulai dari proses rancangan penelitian, peneliti dituntut untuk jeli dalam membuat srtuktur atau metode penelitian. Berikut ini urutan struktur penelitian yang dilakukan:
1)      Langkah awal dalam penelitian ini yaitu menentukan tema dan judul penelitian.
2)      Selanjutnya pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber terlebih dahulu dirancang oleh peneliti.
3)      Setelah persiapan pertanyaan, barulah peneliti memilih 3 narasumber berdasarkan rekomendasi dan data dari ketua RT Desa Kalidadap.
4)      Kemudian penulis menentukan waktu yang tepat untuk melakukan wawancara.
5)      Peneliti membutuhkan waktu 3 hari dalam proses wawancara dan perolehan data.
6)      Setelah semua data berhasil ditentukan, barulah peneliti menyusun laporan penelitian.

Berikut cerita pribadi peneliti dalam upayanya melakukan penelitian ini:
Jujur penelitian ini membuat saya berpikir sedikit lebih keras dan berusaha lebih keras daripada mengerjakan tugas-tugas kuliah yang biasanya. Pasalnya saya harus benar-benar terjun ke lapangan untuk mencari data. Bukankah sangat sulit mengarang cerita kalau pun saya berniat mengerjakan tugas ini secara sembarang dan asal-asalan?
Nah! pada akhirnya saya pun merancang pertanyan setelah menentukan tema dan judul. Saya kira merancang pertanyaan bukanlah hal yang sulit jika dibandingkan dengan proses wawancara. Saya memerlukan waktu 3 hari untuk wawancara dan mencari data. Pada hari pertama, saya datang ke rumah Ketua RT. Namun, saya tidak bisa langsung melakukan wawancara karena Ketua RT sedang di sawah, alhasil saya harus pulang tanpa mengantongi informasi.
Hari berikutnya saya datang lagi ke rumah Ketua RT setelah kemarin membuat janji dengan Bu RT. Hari itu saya baru bisa melakukan wawancara dengan Ketua RT. Jawaban Pak RT terhadap pertanyaan yang saya berikan cukup mudah dicerna dan tidak berbelit-belit karena beliau sudah membaca arsip desa  mengenai asal-usul Desa Kalidadap sebelumnya. Sesi wawancara dengan Pak RT pun berujung dengan sukses dan akhirnya foto bersama.
Untuk wawancara dengan 2 narasumber yang lainnya sangatlah mudah karena saya mewawancarai Mbah Kasmo (nenek saya) dan Bapak Mismanto (pakdhe saya). Mbah Kasmo bisa dikatakan sebagai pemilik cerita dan Bapak Mismanto sebagai pendukung cerita. Sebenarnya saya agak malu karena tidak pernah melibatkan keluarga dalam urusan sekolah, tetapi kali ini untunglah mereka memahami meskipun saya mewawancarai mereka di momen lebaran yang notabene masih banyak tamu. Alhasil wawancara sukses tanpa ada halangan apa pun.
Dalam pengambilan gambar Sungai Lokulo sebagai bukti awal mulanya Desa Kalidadap, saya harus ke ujung utara desa. Jaraknya cukup jauh dari rumah jalannya pun sulit. Saya harus berjalan kaki untuk menuju sungai ini. Berhubung lokasinya agak jauh, saya mengajak teman sepermainan di desa agar dia mau menemani saya ke Sungai Lokulo.

  
D.    Lampiran



Sungai Lokulo, Desa Kalidadap

Bersama Narasumber Mbah Kasmorejo dan Bapak Mismanto

Bersama Narasumber Bapak Jumadi