Tampilkan postingan dengan label Cerpen Dhani Susilowati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Dhani Susilowati. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2016

Cerpen: Pertemuan di Benak Mila

Pertemuan di Benak Mila
Oleh: Dhani Susilowati

Mila, wanita yang tengah hamil tua itu berpendar-pendar pandangnya. Nanar, hingga lampu-lampu kendaaraan di jalan an tampak layaknya kunang-kunang. Akhir-akhir ini dia sering takut pada dirinya sendiri. Ada bau amis bercampur anyir yang dirasa muncul di atas kepala wanita itu. Beberapa kali ia bercermin, tapi tak didapati apa pun jua. Entah itu darah atau barangkali borok bercampur nanah.
Memang, malam itu tepat tiga puluh hari Arman menghilang. Tepatnya selang beberapa waktu setelah Kusno berhasil menembak sembilan orang serdadu Belanda. Surabaya sibuk berkoar-koar perihal kehebatan Kusno kala itu. Begitu agungnya nama pemuda bertubuh tegap itu diteriakkan kawanan manusia berkulit sawo matang. Baik petang maupun terang.
Bebal, pendengaran Mila seakan kerasukan gumpalan hitam tebal yang mengepul dari kumpulan asap bibir orang-orang.
“Kusno memang pemuda yang hebat, kau tahu bukan?” celetuk seorang wanita sembari memamerkan dagangannya.
“Jika lelaki itu mampu menembak mati pasukan Belanda, pasti tidak mustahil kalau lelaki itu pun mampu meluluhkan hati anakku,” sahut wanita paruh baya di sebelahnya.
“Kusmini anakmu itu, hahahahah sudahlah jangan berharap. Kusno si perjaka tangguh itu tidak akan cocok untuk anakmu.”
“Iya kau benar, Kusno hanya pantas untuk anakku,” wanita yang ada di samping Mila pun tak mau kalah memamerkan putrinya.
“Anakmu yang mana, Mila maksudmu? Ah yang benar saja.”
Sederet kata-kata yang dilontarkan Bu Hadmi begitu ampuh untuk sekadar menyumpal mulut segerombolan pedagang sayur di Pasar. Namun, mereka rupanya tidak hanya bungkam. Malah berganti adu tatap dengan Mila. Lantas saja wanita itu terusik hatinya. Dia mengutuki nasibnya hingga sedikit beku mulai  bersarang dalam nurani.
“Arg, sial!”
Tendangan kuat dari jagoan kecil rupanya mampu menggetarkan diding rahim Mila. Sedikit sakit, memang. Tapi kesakitan yang sedikit itu malah menambah dendam. Hingga Mila memutuskan untuk menarik ibunya dari kerumunan desas-desus bajingan yang mengaku pahlawan.
Sejak Arman tidak pulang, Bu Hadmi tampak tenang-tenang saja. Tidak ada kekhawatiran, sekalipun akan menyaksikan putrinya berjuang menghidupi seorang bayi. Tidak ada kekhawatiran , sekalipun mengingat seorang anak akan bertanya-tanya mengenai bapaknya, nanti. Barangkali ia juga ditanya. Betapa pun itu, Bu Hadmi hanya bersyukur tak perlu melenyapkan menantunya dengan susah-payah. Kebenciannya pada Arman telah didengar oleh Tuhan dan dikabulkan melalui takdir. Takdir dengan suka-rela memisahkan ikatan cinta mereka. Kata Mila cinta, tapi tak pernah seperti itu tanggapan Bu Hadmi. Tidak ada cinta, pernikahan mereka hanya petaka belaka.
***
“Bu, makanlah dulu!”
Mila diam saja. Mengedipkan mata pun tidak. Kaki dan tangannya masih tetap kuat melekat pada rangka kayu. Lehernya pun begitu, masih khidmat dalam bongkahan kayu yang melilitnya. Wanita itu mau membuka mulutnya saat cahya matahari pagi mulai menerobos masuk bilik bambu. Dan ditampunglah sesuap nasi itu di antara gigi-gigi kecil, rapi, tetapi makin ditebalkan kemuning kerak.
“Mas, Amran, cepat sedikit, kau bisa terlambat, nanti!” Pika, segera meneriaki suaminya dari rumah.
“Iya, Pik, sebentar,” sahut Amran lebih keras.
Bilik bambu tempat Mila dipasung memang tidak bergandeng dengan rumah Amran. Malah, dipisahkan oleh rerimbunan pohon bambu. Rumah Amran, agak jauh dengan para tetangga. Ya, sekitar empat puluh tujuh meter, kebun pisang dan nanas yang menjadi jaraknya.
“Ayolah, Bu, habiskan makanannya. Aku akan segera pergi kerja!”
Mila masih diam saja. Tapi kali ini matanya yang tak berkedip sedari tadi itu malah basah. Butiran bening seolah menerobos melalui celah-celah penjara mata. Lantas Amran makin marah.
“Terus saja menangis, Bu! Barangkali tangismu itu mampu menghapus dosa-dosamu.”
Bangkit lelaki beristri itu. Lalu enyah dari pelupuk mata yang basah. Jangan heran, dunia memang seperti itu. Air mata, kau pikir dunia kasihan dengan manusia-manusia lemah penyumbang air mata? Oh, tidak, kau salah. Ingatlah, seisi dunia hanya berpihak padamu ketika kau sedang tertawa. Begitu pun Amran pada ibunya.
***
Gelap menjadi pertemuan antara bebauan kamboja dan bangkai-bangakai manusia. Semakin pekat, akan tetapi tetap riuh oleh kepak kawanan gagak dan dengung lalat. Pertemuan itu tidak dijumpai di tempat mana pun. Tidak oleh siapa pun, kecuali Mila. Selalu, setiap matahari mengutarakan perpisahannya melalui senja, sejak itu pula pertemuan itu ada. Pertemuan yang mewakili segenap nurani-nurani yang patah. Dan Mila tak pernah lepas dari paksaan untuk menjahitnya.
Keping-keping ingatan itu mulai berhamburan. Saling direbutkan, ditarik, diulur beratus-ratus gagak hitam. Lalat yang berdengung menciumi koreng di sekujur tubuh Mila, kini berdengung di kepalanya. Ruang gelap di bawah tanah itu benar-benar menyisakan kematian dalam sebuah kehidupan. Bagaimana tidak, raganya seolah terasingkan dari kehidupan. Gelap, dan menyatu dengan asal-muasal kehidupan, tanah.
Amis. Tak berwarna, hanya gelap karena tak ada cahaya. Mulanya bagian lengan terpotong dan basah akan bebauan amis itu. Lengan satunya lagi pun tercacah menjadi dua. Menghadirkan aroma yang sama amisnya. Kemudian bagian perut terbelah, rusuknya pecah. Lalu, penggallah lehernya oleh parang yang baru saja selesai diasah. Kini kakinya pun tak utuh. Tubuh pemuda itu layaknya kepingan puzell yang tidak lagi mampu disatukan ulang.
Sebelas bulan setelah penembakan serdadu Belanda, Surabaya dikabarkan oleh kematian. Kusno tewas mengenaskan. Jasadnya ditemukan di pelataran pasar.
“Bagaimana mungkin pemuda itu mati?” seorang pedagang sayur di pasar pagi mulai membuka gunjingan harian.
“Entahlah, kematiannya mengenaskan sekali. Tubuhnya dipotong-potong seperti ayam-ayam yang kau jual itu,”cerca pedagang yang lainnya.
“Sungguh mengerikan, siapa yang tega melakukannya? Pasti bule-bule bersenjata itu.” Seorang lagi menambahkan asumsi.
Mila menyaksikan kasak-kusuk kumpulan manusia yang pernah amat tajam menatapnya. Kini mata mereka diliputi kebingungan. Sedang Mila merasakan tubuhnya ringan diangkat ribuan tangan, karena berhasil memenangkan kebencian. Bukan siapa pun atau buku mana pun yang mengajarkannya mengayunkan parang untuk memisakhan rangkaian tubuh orang. Namun, dendam yang menuntunnya.
“Mila, kau harus bersabar atas kematian suamimu,” bujuk seorang pedagang ayam. Disambut dengan senyum kecut Mila sambil menggendong putranya.
“Jangan bergerak!” Seru seorang lelaki dari belakang Mila. Semua tercengang. Pembeli yang berdesakan bergeser minggir pelan-pelan.
“Ada apa ini?” Mila lebih tercengang.
“Kami membawa surat perintah untuk memeriksa saudari Mila terkait pembunuhan Kusno.” Kasak-kusuk itu makin menjadi, tapi Mila tak sempat mendengarnya lantaran polisi membawanya pergi.
***
Gelap menjadi pertemuan antara bebauan kamboja dan bangkai-bangakai manusia. Semakin pekat, akan tetapi tetap riuh oleh kepak kawanan gagak dan dengung lalat. Pertemuan itu tidak dijumpai di tempat mana pun. Tidak oleh siapa pun, kecuali Mila. Selalu, setiap matahari mengutarakan perpisahannya melalui senja, sejak itu pula pertemuan itu ada. Pertemuan yang mewakili segenap nurani-nurani yang patah. Dan Mila tak pernah lepas dari paksaan untuk menjahitnya.
“Mila, saya sangat mencintai kamu,” ucap Kusno di satu malam.
Menoleh pun tidak, Mila tetap membelakangi lelaki itu. Masih memandang lekat bayi laki-laki yang dulu bersemayam di rahimnya saat semua warga pasar mengelu-elukan lelaki yang tengah mendekapnya diam-diam.
“Aku sangat tersiksa meski hanya melihatmu ada.”
Kusno mulai menanggalkan senyumnya. Dia memang tahu, tidak ada lelaki lain yang dicintai oleh Mila selain mantan suaminya, Arman. Meski begitu Kusno mengaku senang. Di antara kesenangan itu, kemudian muncul kerumunan bayang-bayang di benaknya. Hingga bibirnya tak lagi bungkam. Tuhan rupanya mengirimkan setan di antara kerumunan bayang –bayang itu.
“Heh, jangan pernah berpikir kalau kamu masih mencintai Arman. Bahkan harusnya cintamu itu ikut mati bersama raganya.”
“Beraninya kau menyebut nama suamiku,” teriak Mila.
“Siapa yang kau maksud suamimu? Bodoh sekali bahkan kamu tidak pernah mengerti jika saya sudah berkorban terlalu jauh untuk menikah dengan kamu.”
“Kekasih sejatiku boleh mati, tapi cintanya masih tetap di sini, ada di setiap embus napasku,” tukas Mila. 
“Bahkan kamu tidak tahu bagaimana lelaki itu mati. “
Pasukan berseragam itu rupanya mengetahui persembunyian Kusno, Arman dan Dwi Jaya. Maka Kusno lari setelah mengumpankan Arman pada kawanan bengis dari barat. Begitu pun Dwi Jaya. Karena amarah, pistol kecil Arman mampu melenyapkan sembilan tentara Belanda. Sayang, hidupnya direnggut satu tembakan tepat di dadanya.
Gelap menjadi pertemuan antara bebauan kamboja dan bangkai-bangakai manusia. Semakin pekat, akan tetapi tetap riuh oleh kepak kawanan gagak dan dengung lalat. Pertemuan itu tidak dijumpai di tempat mana pun. Tidak oleh siapa pun, kecuali Mila. Selalu, setiap matahari mengutarakan perpisahannya melalui senja, sejak itu pula pertemuan itu ada. Pertemuan yang mewakili segenap nurani-nurani yang patah. Dan Mila tak pernah lepas dari paksaan untuk menjahitnya.
“Mila, tak mengapa jika kau sudah tak mencintaiku. Tapi kumohon, bawakan aku bunga dan deretan doa, agar aku bahagia di sini.” Di suatu senja yang cahyanya menerobos bilik bambu, Arman muncul kembali.
“Jangan gila, Sayang. Mengapa memintaku seperti itu, bahkan kau belum mati, dan tidak akan pernah mati bagiku.”
Byar, senyumnya, tatapan sendunya, peluk hangatnya dan tubuh tegap yang pernah menenggelamkan tubuh Mila pecah terbentur suara Amran.
“Bu, aku tahu Ibu seperti ini karena dendam. Tapi, Bu, jangan pernah merencanakan pembunuhan seperti yang tempo hari ingin Ibu lakukan,” pinta lelaki itu pada ibunya.


Semarang, 12 September 2016

Selasa, 06 September 2016

Cerpen Desas-Desus Asap (dalam Buku Kumpulan Cerpen Layung)

Desas-Desus Asap
Oleh: Dhani Susilowati

Prang. Batu seukuran genggaman tangan menyelinap terlempar dari luar. Serpihan kaca berjatuhan diantara keramik putih kusam. Seorang wanita bertubuh ramping buru-buru melesat dari pandangan Asap. Entahlah siapa dia, wajahnya terlindungi petang.
***
Nama Lahirnya Setyana Asap Maharani. Enam belas tahun sudah ia menatap dunia, semua suasananya dinikmati. Dia hidup dengan baik selama ini. Kasih sayang seorang Ibu tak kurang diberi. Begitupun sosok Ayah, beliau benar pria sejati. Memang hanya bertiga tapi bahagia karena cinta, bukan materi yang dicari.
“Puteri kecil Ibu cantik sekali, sini ibu ajarkan bernyanyi!” ajak Ibu sembari membelai rambut Asap. Asap mengangguk sembari malu menyembunyikan senyum.
“Ingat Bu, gadis manis ini puteri Ayah juga, akan Ayah ajarkan bermain gitar,” nada suaranya bangga. Lagi-lagi Asap tersenyum, kali ini ia mendekap dua malaikatnya itu.
Asap perlahan mulai belajar bermain gitar. Memetik senarnya, tangan serta merta hebat bergetar. Mendengar genjrengan parau gitar, hatinya serasa ikut berdebar. Belajar. Pun bernyannyi, mulutnya sulit membuka lebar. Suara-suara fals masih kerap didengar. Belajar.
Gigih ia belajar tanpa kenal lelah. Selalu seperti itu setiap malam, jika saja dijadikan sejarah. Tidak pintar, pun cerdas, dia hanya gadis kecil yang ingin bisa, jadilah Asap bermental gagah.
Petikan gitarnya tak lagi kacau. Suaranya tak lagi parau. Apik, merdu. Tiap nada ia mainkan begitu. Ibu dan ayahnya senang tak tentu. Keberhasilan Asap akan segera mengantar keluarga kecil itu berlibur menikmati gelombang-gelombang biru.
***
Liburan keluarga segera tiba. dikemasi barang-barang yang ada. Makanan, minuman dan pakaian tertata siap dibawa. Ayah mengangkatnya, dimasukkan dalam mobil dengan langkah yang tertata. Mereka akan segera menuju ke Semarang kota. Liburan pertama Asap, diduga akan membawa pengaruh bahagia. Kotanya indah, itu kata mereka. Asap belum melihatnya. Penasaran masih terus membayang menghias setiap pikirrnya.
“Ayah, Ibu let’s go!”teriakku dalam mobil. Mereka hanya tertawa kecil. Setiap perjalanan terasa asik, mendengarkan musik, mulut komat-kamit sembari ngemil. Semarang berjarak empat jam dari rumah Asap yang berada di Wonosobo. Mereka masih menunggu kapan sampainya.
Tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah truk besar pengangkut kayu melaju sangat kencang dan menabrak mobil yang dinaiki Asap. Brrrrrrrrrrrrraaaaaaakkk. Kerumunan orang terdengar riuh. Beberapa menit kemudian mobil polisi datang disusul bunyi sirine dari kejauhan yang semakin mendekat terdengar. Nyawa keluarga kecil dipertaruhkan.
Polisi itu mengeluarkan kaleng cat semprot, lalu menyemprotkan cat itu ke aspal. Menggali bukti penting. Mengamankan mobil dan mencari pelaku tabrak lari. Sementara tubuh-tubuh tak berdaya segera dibawa dengan ambulance.
***
Sepasang suami istri dinyatakan tewas saat kejadian. Kemudian jenazahnya dibawa ke Wonosobo untuk segera dimakamkan. Gadis yang satu ini masih diberi napas tambahan oleh Tuhan. Dia dirawat di rumah sakit Dr. Karyadi, Semarang. Lama tak sadarkan diri. Genap seminggu ia merasa mati. Kini keadaannya sudah pulih kembali.
Jiwanya seperti terganggu. Bagai ditampar topan. Berita kematian. Orang-orang terkasih sebagai penopang. Mana semuanya? Apa yang dia punya saat ini? Bukankah ikut mati lebih baik? Jiwa rapuh itu sudah hampir jatuh. Satu yang menyelamatkannya, sebuah lagu tentang keluarga kecil bahagia. Asap tak sedih berkepanjangan.
***
Asap mencoba memulai hidup yang sebenarnya,berawal dari ambang kematian. Ia kembali ke rumahnya diantar mobil bersirine. Banting otak, pontang-panting mencari cara bertahan hidup sebatang kara. Satu-satunya cara dia harus mendapat uang dari kemampuannya bermusik.
Pagi hingga siang, waktunnya habis digunakan untuk belajar di sekolah. Sepulang sekolah ia bekerja di warung makan milik orang kampung sebelah. Malam seusai Maghrib, ia bekerja di sebuah bar. Setiap hari selalu seperti itu. Karena ia butuh, maka menyerah tak ada kamusnya. Boleh lelah, tapi tidak berhenti melangkah.
Begitu aktivitasnya tiap hari. Cemooh sering terdengar hingga memerahkan telinga. Ditutupnya rapat telinga kanan, telinga kiri, dan telinga yang ada di dalam dadannya, sebagai perwakilan hati. Orang-orang  berpikir mereka bertelinga dua, tapi Asap menganggap dirinya mempunyai tiga telinga.
Telinga kanan dan kiri Asap mendengar riuh bermacam caci. Sedang telinga yang ada di dadanya mendengar ajakan semangat si hati.  Asap lebih sering menggunakan telinga hati. Ketika mata-mata tajam itu berpadu menjadi satu untuk berperang menatap matanya yang nanar. Pandangan Asap mulai memudar. Seperti ada hitam putih bergerak cepat, terasa bergetar.  
***
Prang. Batu seukuran genggaman tangan menyelinap terlempar dari luar. Serpihan kaca berjatuhan diantara keramik putih kusam. Seorang wanita bertubuh ramping buru-buru melesat dari pandangan Asap. Entahlah siapa dia, wajahnya terlindungi petang.
            Asap siap dengan seragam putih abu-abu. Dibukanya gagang pintu. Teras penuh pasir dan batu. Pelacur, wanita jalang, korbankan keperawanan tertuliskan dengan warna merah darah di dinding. Asap tercengang, tak membereskanya, ia tergesa meninggalkan rumahnya.
            Petang. Ia berganti pakaian menjelma sebagai mahkota bar. Lesung pipi yang tampak ketika ia bernyanyi, membuat lelaki kesepian rela menyuguhkan berlembar-lembar uang bergambar Soekarno-Hatta. Ketika jemarinya mulai kasar sebab lerlalu lama berperang dengan senar, ia beralih menuangkan barang haram. Asap tak mahir untuk itu, hanya bermodal senyuman dan lekuk tubuh yang sempurna tiap kali dipandang mata lelaki hidung belang. Berratus pasang mata menatapnya penuh gairah akan tubuhnya. Ada pula tatap mata iba, tapi tak sering , hanya ada satu orang dengan mata seperti itu sejak berlaku pekerjaan ini.
            Asap pulang, wajahnya berada tepat di titik letihnya. Berkali ia menyeka peluh yang mengendap-endap keluar membasahi wajah mulai dari ubun-ubun di tengah kepala. Langkah yang terhuyung-huyung mengantarnya menuju pintu rumah, setelah keluar dari mobil yang berganti-ganti setiap malam. Kali ini lelaki dengan tatap iba yang mengantarnya pulang. Asap baru saja diajak untuk mengikuti kegiatan bakti sosial di Yayasan Kasih Anak Kanker besok. Dia tak bisa selain berkata iya.
            ***
            “Adik-adik, kalian pasti bosan, bagaimana kalau kita bermain musik?” tawarku penuh  kehati-hatian. Mereka mengangkat lalu menurunkan dagu secara cepat dan berulang kali. Asap lega menatap mereka. Lalu diambilnya gitar pemberian mendiang ayahnya. Duduk ia disebuah kursi yang terlihat agak tua. Ditariknya napas dalam-dalam, dihempaskanya lagi. Dia lakukan berulang sebelum mulai bersuara.
            Nada minor ia mainkan, suaranya lembut, mendayu bagai menyapu asa dan derita. Berlanjut nada mayor, membuat anak-anak tak berrambut itu ikut menari sedikit berjingkat. Asap menampakkan senyum khas dengan lesung pipi tetap di wajahnya. Lelaki dengan tatapan iba menatapnya tepat tiga langkah di depannya. Asap balik menatap, tapi bukan sorot mata iba yang ia lihat kali ini. Lelaki itu memandang tak ubahnya orang yang bangga. Entahlah Asap hanya bernyanyi dan menghibur anak-anak kecil yang duduk di depannya.
            Mereka menampakkan gigi putihnya, mulutnya ikut komat-kamit, namun sayangnya suara mereka tak terdengar telinga. Asap melanjutkan saja memetik senar gitar hingga perih jemarinya, namun tersamarkan oleh tawa kecil yang sengaja ia ciptakan. Beberapa orang lelaki membawa kamera, ia kira semacam seksi dokumentasi acara. Asap abaikan saja.
            ***
            Berita Asap muncul di televisi juga koran, di media sosial seperti facebook, twitter, dan instagram ramai diperbincangkan. Dirinya sendiri baru sadar setelah teman sekelasnya heboh meyodorkan koran yang berisi berita tentang dirinya. Rupanya tak ubah senang, masih datar. Apa yang dibanggakan ketika hanya berita yang beredar, toh dia memang sudah cukup menjadi perbincangan warga kampung hingga kampung sebelah.
            Asap pulang. Lagi-lagi hari memang sudah petang. Tak seperti biasanya, teras rumahnya tak karuan diteror orang. Masih sama seperti pagi ketika ia tinggalkan. Pasir, batu dan coretan di dinding, masih tetap belum hilang. Ia bergegas membinasakan sampah tak bermoral pembuangnya. Tak lupa ia mengibaskan rambutnya yang tergerai, kadang terbawa hembusan angin malam.
            “Ini honormu, terimakasih telah membuat mereka tertawa,” jelas lelaki itu sembari menggenggamkan amplop warna putih polos di antara jari-jemariku. Asap tak menolaknya, girang dalam hatinya. Kematianya bisa tertunda, setidaknya ia mengantisipasi dengan makan dan minum dari uang yang ada pada genggamanya untuk hidup esok hari.
            ***
            “Dia memang bekerja di sebuah bar, tapi dia hanya bernyanyi,” jelas ibu muda.
            “Dia juga menjadi terkenal karena suaranya yang merdu saat menghibur anak-anak kanker, ternyata jiwa sosialnya tinggi,” ibu berumur tiga puluh tahunan menambahkan. Pergunjingan semakin ramai. Mereka ingin berganti topik di esok hari, bukan lagi Asap si gadis elok pekerja keras yang bersuara sedap didengar. Melainkan mencari mangsa baru yang akan mereka korek habis-habisan.
            Berita Asap hilang, hujan telah mengguyur kampung penuh gunjingan.

Semarang, 21 November 2015

Cerpen Arlena dalam Lentera (Buletin Keris edisi 21, UKM KIAS UPGRIS)

Arlena dalam Lentera
Oleh: Dhani Susilowati

“Argh sial!”
Arlina terpaku dalam diam. Angannya mulai berpadu dengan petang. Nanar ditatapnya seisi ruang, pun imajinya mulai liar menerawang seberkas bayang. Pecahan kenangan diam-diam menyeruak dalam ingatan. Hitam pada mulanya. Namun, di antara gelap dia melihat seorang wanita paruh baya menggali tanah di belakang rumahnya.
“Lin, kenapa lampunya kau biarkan padam?” ucap Gema sembari membuka pintu kamar calon istrinya.
“Biarlah, kali ini saja, aku hanya ingin menikmati malam dalam petang,” cercanya.
Gema, tentu mengiyakan pinta kekasihnya, sambil lalu menutup pintu. Dia rasakan ada keganjalan dalam rona wajah Arlina akhir-akhir ini. Wajar, harinya disibukan dengan persiapan acara sakral dalam hidupnya. Pernikahan. Ini bukan sekadar penyatu kisah asmara, melainkan perkawinan dua adat berbeda.
Di sudut ruang, Arlina masih bersandar pada diding batas kenangan. Beralaskan keramik yang sama hitam.
“Maaf, Len, aku tak mungkin menghadirkanmu kembali,” bisik Arlina.
“Kumohon, jangan ambil Gema dariku,” tangisnya semakin jadi.
Arlina tak mungkin bertukar peran dengan sosok serupa, tetapi tak sama rasa. Malah, ia bersikukuh melenyapkan Arlena. Namun, kau tahu? Seberapa keras upaya Arlina, saraf otaknya sendirilah yang mati. Perlahan, sebagian realita dalam chip memori hadiah Tuhan, memudar dalam diam.
Mungkin, kau penasaran, seburuk apakah sosok wanita berparas ayu itu? Hingga kehadiranya menjadi bencana dalam ritme kehidupan Arlina. Kau tak akan melihatnya nyata. Jadi, kusarankan agar kau berimajinasi tentangnya. Tatanan rambutnya biasa tergerai rapi dengan jepit kecil berwarna hitam di atas kening. Rambutnya hanya sebatas bahu. Tubuhnya tinggi semampai, semakin ayu jika berpadu dengan rupanya yang manis berkat lesung pipit di pipi kirinya.
Arlena masih bisu dalam penjara sebuah lentera yang menunggu nyala. Dia terus menanti pengunjung setianya. Biasanya dia diundang untuk mengisi ruang kesepian sesosok wanita yang serupa tubuhnya. Wanita itu telah menjanjikan sebuah dunia nyata.
“Aku tak ingin di sini, Lin,” rengeknya pada Arlina.
“Tapi tempatmu di sini, Len,” tukas Arlina kembali menegaskan.
“Kenapa dunia berlaku tak adil padaku? Seperti kau yang membiarkanku busuk dalam ruang gelap ini,” ucapnya terhenti seketika, ”Aku ingin hidup, sama sepertimu,” nada suaranya parau
Perasaan iba, tampak membolak-balikan hati Arlina. Hingga ia terlena. Dan membuka celah jiwanya untuk diisi sosok kembarannya. Lalu, Arlena seperti dihadiahkan tahta. Ia berkuasa ketika Arlina menyalakan lentera. Ruhnya hidup diantara cahaya api itu.
Arlena ingat betul, bagaimana ia mengenal pria tegap bernama Gema. Pemuda kelahiran Sunda dengan segudang talenta. Sayang, Gema tak pernah punya segelintir nyali untuk menunjukan semuanya. Entahlah, itu membuat Arlena geram. Begitulah, hingga ia menjerumuskan ruhnya di setiap dunia Gema.
“Kau harus jadi penulis handal, baru aku mau menikah denganmu,” desak Arlena.
Lantas Gema menimpalinya, “Sayang, kau ini selalu memaksaku dengan trik-trik jitu milikmu,” tawanya pecah seketika. Arlena hanya tersenyum kecut.
“Sudahlah, jangan hanya tertawa,” raut wajahnya masam seketika.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Harusnya kau tahu, pikir saja sendiri. Malah, aku baru saja berpikir ingin menyematkan gelar doktor di depan namamu, Tentu itu tak akan bisa, jika kau tak mengubah caramu,” Arlena memaparkannya.
***
Begitulah hidup Gema, dikendalikan bayang Arlina secara paksa. Namun, itu yang menumbuhkan perasaan cinta. Perlahan, tetapi selalu berkembang. Seperti benih yang menghadirkan pohon rindang. Memori ingatannya dijejali jutaan kenangan yang semakin sesak berdesakan.
Wanita dari tanah Jawa itu, mengenakan baju dengan nuansa adat di hari pernikahannya. Tentu, menjadi busana pengantin terindah. Pun Gema, ia tampak gagah. Jiwanya dibalut aura wibawa, yang kemudian berpadu dalam adat wanitanya. Tak mau kalah mencolok mata, adat Sunda pun turut serta dalam pernikahan pertama mereka.
“Sayang, sekarang kau resmi menjadi Nyonya Gema. Gelar doktor dan ketiga buku karyaku, ya, semua itu untukmu, Lin,” bisiknya di antara ribuan tamu undangan.
Arlina seperti tertohok tepat di dadanya. Bukan tertuju pada bisik mesra Gema. Ada seberkas bayang melintas di kedua matanya. Kau tahu? Arlena hadir dengan riasan  yang tak kalah anggun dengan pengantin wanitanya.
“Seandainya ada dua wanita dengan wajah dan gaun yang sama denganku, siapa yang akan kau pilih sebagai Nyonya Gema?”
“Kau jangan bercanda, Sayang,” pekik Gema heran.
“Biar tidak tegang, Sayang,” Arlina mencoba menetralkan suasana. Lalu kembali melanjutkan, “Bukankah aku dapat mengenalmu dari candaan kita?”
“Aku tahu kau tidak sedang bercanda, tapi mamaksaku untuk memilihmu, bukan?” Dia melirik sambil menyunggingkan senyuman.
Telapak tangan ribuan undangan saling berganti bersentuhan dengan jemari Arlina, pun Gema. Pikirnya semakin buyar. Arlena yang tadi datang, menghilang dalam pandang. Biasanya Arlena hanya datang jika ia pinta, tapi hari ini, Arlena yang dikenalnya berbeda.
***
            Pasangan mudi itu, tampak bergairah di antara remang-remang cahaya lentera penghias malam pertama. Gema memantapkan iktikadnya sebagai pria. Sedang Arlina tampak menunggu belaian lelakinya. Saling bertataplah kedua mata berptasangka cinta. Arlina yang mengenakan piama, terlihat molek memamerkan kulit putihnya. Sayang, cantiknya tampak samar di atas ranjang.
            Saat mereka tengah masyuk, Arlena kembali menampakkan dirinya dengan piama yang sama. Kali ini dia tidak hanya tersenyum. Namun, dia begitu lancang menggauli suaminya. Tercengang bukan kepalang, ketika Arlina melihat Gema berpaling, lalu bercumbu dengan wanita itu. Masih di ranjang yang sama, Arlina tak mampu bersuara barang sekata.
            Ia berpaling sambil kembali mengenakan piama. Kemudian diraihnya vas bunga yang tertata di meja. Melayang, seketika menghantam mahkota wanita bangsat itu.
            “Hentikan, Lin! Apa yang kau lakukan?” teriak Gema sambil menahan sakitnya.
            “Matilah kau, Len!” Arlina berseri sebelum menarik pelatuk bedil yang tertuju tepat di dada Arlena.
            Tidak. Semua itu tidak mengena sedikitpun di tubuh Arlena. Vas bunga dan pistol yang telah disiapkannya di bawah bantal untuk berjaga, tak bisa membunuh wanita jalang itu. Selamanya dia akan mengganggunya, berkeliaran di matanya dan menggerogoti ingatannya dalam dunia nyata.
            “Jangan mencoba membunuhku lagi, Lin,” ucapnya sebelum dia bersembunyi di balik petang.
***
            Sekujur tubuh Arlina gemetar, wajahnya pucat pasi tanpa ekspresi. Kelu lidahnya tidak mampu membahasakan jiwa. Sesekali dia bersuara, hanya teriak histeris yang menggemparkan seisi rumah sakit tempatnya dirawat.
Di tempat itu, dia sering dipaksa menelan bermacam pil, mesti tidak dia suka. Selalu saja dimaki suster galak ketika dia menolak. Kulitnya sering bersentuhan dengan jarum suntik berisikan cairan penenang, mana kala ia berontak tak terkendali.
Dia kerap ditanya hal-hal aneh, kata Gema, yang bertannya adalah seorang dokter. Maka dia diminta untuk menjawab saja.
“Arlina, apakah Arlena itu temanmu?” tanya seorang pria dengan pakaian putuh sebagai baju kerjanya.
“Ssstt...diam, aku tak ingin dia datang.”
“Apa Arlena itu menakutkan?” tukas pria itu.
“Kau ini, kubilang jangan sebut namanya, nanti dia bangun,” pintanya pada dokter.
“Aku bisa membunuhnya, tapi kau ceritakan dulu, seperti apa dia?” bujuknya.
Arlena selalu ada di kepala wanita itu, sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia sendiri tidak tahu dari mana Arlena berasal. Yang jelas dia muncul tiba-tiba dari balik tanah di belakang rumahnya. Waktu kecil, ia sering menemaninya bermain boneka. Katanya dia tak punya teman, sehingga menemani Arlina yang juga kesepian. Jika dipandang, wajahnya sama seperti wajah Arlina, olehnya dia menyematkan nama Arlena untuk gadis kecil yang serupa dengannya.
“Arlena tak suka gelap, dia juga tak menyukai cahaya yang terlalu terang. Jadi aku menyalakan lentera setiap kali aku ingin bermain dengannya,” jelas Arlina dengan polos.
Pantas saja Arlina terganggu jiwanya. Baru-baru ini, tersiar berita di surat kabar. Pembunuhan sadis yang dilakukan seorang ibu kepada salah satu putri kembarnya. Orang tua tunggal itu membunuh lantaran tak mampu menafkahi kedua putrinya. Simpel saja, dia hanya mengubur bocah berumur enam tahun di kebun belakang rumah, setelah memberikan obat tidur pada minuman anaknya. Peristiwa ini, baru terkuak setelah si ibu merahasiakannya selama tujuh belas tahun.
 Di ambang pintu ruang Arlina diasingkan dari keramaian, Gema datang dengan serangkaian mawar.
“Apa kabar, Sayang?”

Semarang,  21 Maret 2016 

Cerpen Wanita Pemilik Rambut Bersarang Hantu



Wanita Pemilik Rambut Bersarang Hantu
Oleh: Dhani Susilowati

            Aku mengingatnya lagi. Wanita yang bersarang hantu di setiap helai rambutnya. Ya, aku pernah mendekap erat tubuhnya di sebuah ranjang yang bertabur bunga. Senyum timbul di antara bibir merahnya yang lembab. Aku tak menciptakan noktah yang merusak kesuciannya. Meski hubungan kita halal lantaran akad pagi tadi. Gelap menenggelamkan sorot matanya. Aku hanya mendekapnya semakin erat hingga kami terlelap.
            Istriku masih sangat muda waktu itu. Pipinya sering kali kemerahan ketika hawa dingin mulai bergesel dengan kulit cokelatnya. Terlebih saat aku menuturkan namanya, Nike. Dia memang gadis desa yang kerap bersentuhan dengan sayur-mayur hasil tanah Dieng. Namun setelah menikah, dia tak lagi membantu ayah dan ibunya bertani.  Kami pindah di kota kelahiranku, Semarang. Ibuku telah menyediakan rumah tepat di samping rumahnya.
            ***
Aku mendekap potret kita. Kala itu kau terlihat anggun dengan kebaya putih dan aku tampak gagah dengan kemeja yang serasi dengan warna kebayamu. Aku masih mendengus semerbak bunga yang mengisi seluruh ruang. Memori itu menyeruak menembus dinding pembatas kenangan dalam benakku.
Sebelum menikah denganku, dia gadis kecil yang amat malang. Wajahnya kumal, rambutnya gimbal hingga tak bisa disisir oleh ibunya. Upacara ruwat acap kali ingin dilakukan, namun lagi-lagi istriku tak membuat permintaan yang masuk akal.
“Aku mau menikah dengan Mas Darma, Bu!” pinta gadis kecil berumur dua belas tahun. Ini mustahil. Bahkan aku hanya sekali berpapasan dengannya di Telaga Warna ketika diajak Nenek dan Paman Aji berlibur. Lagipula umurku baru tiga belas kala itu.
            Rambut gimbalnya dibiarkan tumbuh tanpa pernah dicukur barang sehelai. Rieke hanya menutup mahkotanya dengan sehelai kain. Rambutnya tertutup, begitupun dengan kepribadiannya. Ia sangat tertutup dan keras kepala. Hampir tak ada yang mau berteman dengan gadis aneh berbau mistis itu. Namun Nike tak pernah sepi, dia mempunyai banyak teman dalam dunianya sendiri. Teman-temannya itu memiliki ruang khusus di setiap helai rambut gimbalnya.
            Dua bocah kecil berkepala botak meminta Nike untuk mengejarnya. Ia sangat bingung, bocah pucat itu kadang-kadang menghilang terlampau cepat dari pandangan mata. Lalu tampak kembali, tawanya terbahak. Tempo hari, wanita cantik paruh baya meminta untuk mendengarkan senandungnya. Rambutnya hitam tergerai. Mereka duduk di dahan pohon belakang rumah Nike. Ayahnya hingga kehabisan cara untuk mencari. Ibunya pucat pasi khawatir kalau-kalau dedemit keparat itu membawa puterinya pergi.
            Setelah orang tuanya mengabaikan permintaannya untuk menikah, Nike sakit keras selama dua tahun. Sekujur tubuhnya panas ketika malam ataupun siang. Gimbal di rambutnya semakin menjadi. Resep dokter tak mampu memulihkan keadaannya. Orang tuanya tak kehabisan akal. Mereka mendatangi rumah orang pintar yang biasa disebut dukun di dataran tinggi Dieng.
“Anakmu bisa saja sembuh,” katanya sambil komat-kamit membaca mantra.
“Lantas bagaimana carannya, Mbah?” tannya ayah Nike penuh harap.
“Nikahkan anakmu!”
Atas resep dari dukun setempat, orang tuanya mengiyakan permintaannya.
            Istriku menjelma layaknya wanita yang bermahkota baru, sejak upacara ruwat dilangsungkan bersamaan di hari akad nikah kami. Prosesi sakral itu dilaksanakan di Batu Tulis yang terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Sesaji yang tertata rapi. Musik gamelan klasik yang membuatku bergidik. Aroma kemenyan yang menyeruak. Helaian panjang yang menjadi sarang setan itu, dicukur perlahan. Aku sempat melirik wanita itu. Memerah pipinya, buih-buih bening menyelinap dari penjara matanya.
            ***
            Pagi itu, mentari sudah mulai silau jika kupandang dari jendela kaca. Aku tergesa menyiapkan kemeja yang hendak kukenakan untuk sidang skripsiku. Senyum khas istriku kembali menyelinap di antara jiwa yang tergesa.
            “Wah suamiku sudah mandi, lihatlah kulitnya putih sekali.” Dia memuji. Aku diam saja, justru aku ingin enyah dari pandangannya.
            “Sayang ini kemejanya, pakailah. Sini biar kubantu kau mengenakan dasinya!” dia selalu memperlakukan aku layaknya raja.
Jika bukan permintaan terakhir nenek, mungkin aku tak akan nikah muda. Itulah mengapa aku acuh pada istriku. Lagipula dia yang mengandaskan kisah asmaraku dengan Vega, kekasihku. Sejak tahu aku sudah menikah, Vega menghilang entah kemana. Bahkan tak ada kata-kata tanda berakhirnya hubungan kami.
Vega yang selalu terlihat molek ketika mengibaskan rambutnya. Paras ayu yang siap menggoda setiap pria. Entah pria berkacamata yang rajin membaca di perpustakaan kampus ataupun mahasiswa yang terkenal brutal sekalipun. Ya, aku pernah menjadi kekasihnya, mungkin masih menjadi kekasihnya hingga saat ini.
            Itulah, hingga aku semakin membenci wanita yang selalu menyiapkan sarapan untukku. Kadang aku mencari alasan untuk sekadar tak mau makan masakannya. Kerap kali aku berdalih pulang malam untuk mengerjakan tugas agar tak melihat wajahnya, padahal aku hanya mondar-mandir di kampus saja. Aku tahu pasti wanita itu menunggu sambil menyiapkan makan malam untukku, tapi sering kali aku langsung mandi dan tak sedikitpun melirik menu yang telah tersaji.
            Di hari ulang tahunku yang ke-22, aku sengaja tak pulang. Sedari tadi aku menunggu Vega di kedai kopi, tempat aku menyatakan perasaanku kepadanya. Tentu setelah aku menerima balasan atas pesan yang ku kirimkan tempo hari. Hingga larut, kekasihku tak kunjunng menghampiriku. Kuputuskan tetap menunggu sambil menikmati gemerlap lampu bar. Aku enggan pulang, bertemu wanita itu hanya membuat api di dadaku tersulut berkobar.
            Dering ponselku membuyarkan lamunan. Kuraih cepat. Aku kira kekasihku, tapi lagi-lagi nama wanita itu, wanita yang masih tak ingin kusebut istri, tertera di layar ponsel pintar.
            Sayang, tak ingatkah hari apa ini?
            Mengapa kau tak pulang hingga larut begini? Sayang apa kau baik-baik saja?
            Suamiku, aku menunggumu.
            Mas Darma, kau di mana? Biar aku menyusulmu.
Kepalaku serasa terbelah dua membaca pesan singkat itu. Kuputuskan untuk mengabaikannya. Lalu kedapatan ada pesan masuk dari nomor yang berbeda.
Aku tak bisa datang malam ini.
Sial! Darahku serasa menembus dinding vena yang membendungnya. Kemudian aku menonaktifkan ponsel dengan paksa. Lalu menunggu hingga jam digital yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukan pukul tiga pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak mau bertemu dengan wanita itu.
            Sayangnya aku salah. Ternyata waktu tidak mampu melelapkannya. Ketika kubuka pintu, ia lekas menubrukku. Pelukan hangat yang selama ini selalu kuhindari. Dia mencemaskanku terlihat jelas dari sorot matanya.  Aku masih menatapnya kali ini, tatapan yang selalu ku usir pergi. Wanita itu merawat tubuhku, memapah dan membaringkan badan besarku di ranjang. Kali ini aku membiarkan tangan yang biasanya tak pernah kuizinkan untuk menyentuh setiap sisi dari jiwaku. Aku menatap nanar, yang aku lihat hanya gelap sepekat kopi hitam. Kami terlelap hingga cerah menerobos celah jendela kamar kami.
            ***
Aku terjebak dalam ruang yang kuciptakan sendiri. Puing-puing kenangan yang masih tersisa di benakku sulit tersapu oleh waktu. Senyumnya. Lesung di pipinya. Benar-benar masih terpatri di kepala. Pernah satu pagi aura di hatinya benar terlihat nyata. Sangat berbeda. Istriku bergumam menadakan sebuah lagu tanpa membuka bibirnya. Entah kenapa aku bahagia pula pagi itu. Tak lagi memasang wajah malaikat Malik pada istriku. Malah sering aku menarik bibirku dan menciptakan senyum setiap melirik ke arahnya.
            “Kenapa kau tampak sangat bahagia?” tanyaku.
            “Tidak Mas, aku hanya senang dengan musik ini.” Dia masih saja tersenyum, kali ini sambil memaut perut dengan tangannya.
            “Apa kau hamil?” tebakku mulai curiga dengan gelagatnya. Kini kembali kupasang wajah seperti biasanya. Kaku. Dia terdiam sejenak, lalu kembali melontarkan kata.
            “Belum Mas, tapi aku masih berharap bisa mengecup bibir malaikat kecilku dan menidurkannya suatu saat nanti.”
            “Jangan bermimpi,” tukasku sembari berlalu.
            ***
            Sidang skripsiku usai dengan penolakan yang sarkastik dari seorang dosen. Tubuhku terkulai lemas. Hampir saja aku kehabisan napas. Saraf-saraf yang menyatu padu di otakku serasa terhempas. Aku keluar dari ruang jahanam itu dengan senyum getir yang kupaksakan di bibir gerauku.
            Kembali timbul wajah istriku, seperti gelap yang menyelimuti hari. Aku melihatnya membiarkan air mata itu terhambur dari jeruji yang ia pasang sendiri.
“Kenapa kau? Tak usah mengharap belas kasihku!”
Dia menimpali dengan senyum khasnya, “Aku tidak apa-apa, Mas. Bukan belas kasihan yang aku harap tapi cinta tulus darimu yang selalu aku nantikan sejak tiga tahun pernikahan kita.”
 “Aku memang punya cinta yang sangat tulus tapi bukan untukmu, jangan mimpi,” sahutku dengan nada yang sengaja aku tinggikan.
            Bahkan aku sudah memikirkan cara menceraikan wanita itu sejak hari mulai terang hingga malam menjelang. Memang telah kurencanakan pernikahanku bersama kekasihku diam-diam. Kami kembali menjalin asmara sejak janjiku untuk menceraikan wanita yang menyandang status istriku. Lalu kupaksakan lidah keluku untuk mengucap kata yang paling dibenci Tuhanku. Talak.
            “Akhirnya kamu benar-benar mengatakannya, Mas.” Dia menundukkan kepala seolah menyembunyikan basah di pipinya. Aku tak lagi mampu berbahasa.
            “Besok pagi aku akan pulang ke rumah Ibu, terima kasih, Mas. Kamu sudah mengajarkanku untuk bersabar juga cara menafkahi diriku sendiri, lahir ataupun batin,” wanita itu beranjak memalingkan diri dariku. Ya, wanita yang dulu bersarang hantu di setiap helai rambutnya.
            Lalu kubiarkan kenangan itu menguap bersama embusan napasku. Meskipun ingatan tentangnya masih lekat di saraf otakku. Namun, dia tak lagi menjadi bagian dalam masa depanku. Tak lain, ia hanyalah sepenggal kisah dalam bingkai masa lalu.
Seorang lelaki yang tak pernah ku lihat wajahnya, mengetuk pintu rumahku, tepat pada Minggu pagi saat aku tengah bersantai. Tapi dari baju yang dikenakan, aku tahu dia petugas pos. Dari Wonosobo, katanya. Kali ini aku benar-benar tersentak.
Selembar kertas putih ini, bertuliskan tinta kematian. Wanita yang pernah kusia-siakan tengah berduka. Gumpalan daging yang pernah bermukim tiga bulan di rahimnya, luruh bersama pendarahan hebat. Janin itu, lalu diangkat ke surga. Membaca rangkaian kata itu, seketika urat nadi di leherku seperti putus terhunus jenawi.
Aku akan mencari anak kita di Surga, Mas. Meminta cinta darinya.        



Semarang, 03 Januari 2016