Selasa, 06 September 2016

Cerpen Arlena dalam Lentera (Buletin Keris edisi 21, UKM KIAS UPGRIS)

Arlena dalam Lentera
Oleh: Dhani Susilowati

“Argh sial!”
Arlina terpaku dalam diam. Angannya mulai berpadu dengan petang. Nanar ditatapnya seisi ruang, pun imajinya mulai liar menerawang seberkas bayang. Pecahan kenangan diam-diam menyeruak dalam ingatan. Hitam pada mulanya. Namun, di antara gelap dia melihat seorang wanita paruh baya menggali tanah di belakang rumahnya.
“Lin, kenapa lampunya kau biarkan padam?” ucap Gema sembari membuka pintu kamar calon istrinya.
“Biarlah, kali ini saja, aku hanya ingin menikmati malam dalam petang,” cercanya.
Gema, tentu mengiyakan pinta kekasihnya, sambil lalu menutup pintu. Dia rasakan ada keganjalan dalam rona wajah Arlina akhir-akhir ini. Wajar, harinya disibukan dengan persiapan acara sakral dalam hidupnya. Pernikahan. Ini bukan sekadar penyatu kisah asmara, melainkan perkawinan dua adat berbeda.
Di sudut ruang, Arlina masih bersandar pada diding batas kenangan. Beralaskan keramik yang sama hitam.
“Maaf, Len, aku tak mungkin menghadirkanmu kembali,” bisik Arlina.
“Kumohon, jangan ambil Gema dariku,” tangisnya semakin jadi.
Arlina tak mungkin bertukar peran dengan sosok serupa, tetapi tak sama rasa. Malah, ia bersikukuh melenyapkan Arlena. Namun, kau tahu? Seberapa keras upaya Arlina, saraf otaknya sendirilah yang mati. Perlahan, sebagian realita dalam chip memori hadiah Tuhan, memudar dalam diam.
Mungkin, kau penasaran, seburuk apakah sosok wanita berparas ayu itu? Hingga kehadiranya menjadi bencana dalam ritme kehidupan Arlina. Kau tak akan melihatnya nyata. Jadi, kusarankan agar kau berimajinasi tentangnya. Tatanan rambutnya biasa tergerai rapi dengan jepit kecil berwarna hitam di atas kening. Rambutnya hanya sebatas bahu. Tubuhnya tinggi semampai, semakin ayu jika berpadu dengan rupanya yang manis berkat lesung pipit di pipi kirinya.
Arlena masih bisu dalam penjara sebuah lentera yang menunggu nyala. Dia terus menanti pengunjung setianya. Biasanya dia diundang untuk mengisi ruang kesepian sesosok wanita yang serupa tubuhnya. Wanita itu telah menjanjikan sebuah dunia nyata.
“Aku tak ingin di sini, Lin,” rengeknya pada Arlina.
“Tapi tempatmu di sini, Len,” tukas Arlina kembali menegaskan.
“Kenapa dunia berlaku tak adil padaku? Seperti kau yang membiarkanku busuk dalam ruang gelap ini,” ucapnya terhenti seketika, ”Aku ingin hidup, sama sepertimu,” nada suaranya parau
Perasaan iba, tampak membolak-balikan hati Arlina. Hingga ia terlena. Dan membuka celah jiwanya untuk diisi sosok kembarannya. Lalu, Arlena seperti dihadiahkan tahta. Ia berkuasa ketika Arlina menyalakan lentera. Ruhnya hidup diantara cahaya api itu.
Arlena ingat betul, bagaimana ia mengenal pria tegap bernama Gema. Pemuda kelahiran Sunda dengan segudang talenta. Sayang, Gema tak pernah punya segelintir nyali untuk menunjukan semuanya. Entahlah, itu membuat Arlena geram. Begitulah, hingga ia menjerumuskan ruhnya di setiap dunia Gema.
“Kau harus jadi penulis handal, baru aku mau menikah denganmu,” desak Arlena.
Lantas Gema menimpalinya, “Sayang, kau ini selalu memaksaku dengan trik-trik jitu milikmu,” tawanya pecah seketika. Arlena hanya tersenyum kecut.
“Sudahlah, jangan hanya tertawa,” raut wajahnya masam seketika.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Harusnya kau tahu, pikir saja sendiri. Malah, aku baru saja berpikir ingin menyematkan gelar doktor di depan namamu, Tentu itu tak akan bisa, jika kau tak mengubah caramu,” Arlena memaparkannya.
***
Begitulah hidup Gema, dikendalikan bayang Arlina secara paksa. Namun, itu yang menumbuhkan perasaan cinta. Perlahan, tetapi selalu berkembang. Seperti benih yang menghadirkan pohon rindang. Memori ingatannya dijejali jutaan kenangan yang semakin sesak berdesakan.
Wanita dari tanah Jawa itu, mengenakan baju dengan nuansa adat di hari pernikahannya. Tentu, menjadi busana pengantin terindah. Pun Gema, ia tampak gagah. Jiwanya dibalut aura wibawa, yang kemudian berpadu dalam adat wanitanya. Tak mau kalah mencolok mata, adat Sunda pun turut serta dalam pernikahan pertama mereka.
“Sayang, sekarang kau resmi menjadi Nyonya Gema. Gelar doktor dan ketiga buku karyaku, ya, semua itu untukmu, Lin,” bisiknya di antara ribuan tamu undangan.
Arlina seperti tertohok tepat di dadanya. Bukan tertuju pada bisik mesra Gema. Ada seberkas bayang melintas di kedua matanya. Kau tahu? Arlena hadir dengan riasan  yang tak kalah anggun dengan pengantin wanitanya.
“Seandainya ada dua wanita dengan wajah dan gaun yang sama denganku, siapa yang akan kau pilih sebagai Nyonya Gema?”
“Kau jangan bercanda, Sayang,” pekik Gema heran.
“Biar tidak tegang, Sayang,” Arlina mencoba menetralkan suasana. Lalu kembali melanjutkan, “Bukankah aku dapat mengenalmu dari candaan kita?”
“Aku tahu kau tidak sedang bercanda, tapi mamaksaku untuk memilihmu, bukan?” Dia melirik sambil menyunggingkan senyuman.
Telapak tangan ribuan undangan saling berganti bersentuhan dengan jemari Arlina, pun Gema. Pikirnya semakin buyar. Arlena yang tadi datang, menghilang dalam pandang. Biasanya Arlena hanya datang jika ia pinta, tapi hari ini, Arlena yang dikenalnya berbeda.
***
            Pasangan mudi itu, tampak bergairah di antara remang-remang cahaya lentera penghias malam pertama. Gema memantapkan iktikadnya sebagai pria. Sedang Arlina tampak menunggu belaian lelakinya. Saling bertataplah kedua mata berptasangka cinta. Arlina yang mengenakan piama, terlihat molek memamerkan kulit putihnya. Sayang, cantiknya tampak samar di atas ranjang.
            Saat mereka tengah masyuk, Arlena kembali menampakkan dirinya dengan piama yang sama. Kali ini dia tidak hanya tersenyum. Namun, dia begitu lancang menggauli suaminya. Tercengang bukan kepalang, ketika Arlina melihat Gema berpaling, lalu bercumbu dengan wanita itu. Masih di ranjang yang sama, Arlina tak mampu bersuara barang sekata.
            Ia berpaling sambil kembali mengenakan piama. Kemudian diraihnya vas bunga yang tertata di meja. Melayang, seketika menghantam mahkota wanita bangsat itu.
            “Hentikan, Lin! Apa yang kau lakukan?” teriak Gema sambil menahan sakitnya.
            “Matilah kau, Len!” Arlina berseri sebelum menarik pelatuk bedil yang tertuju tepat di dada Arlena.
            Tidak. Semua itu tidak mengena sedikitpun di tubuh Arlena. Vas bunga dan pistol yang telah disiapkannya di bawah bantal untuk berjaga, tak bisa membunuh wanita jalang itu. Selamanya dia akan mengganggunya, berkeliaran di matanya dan menggerogoti ingatannya dalam dunia nyata.
            “Jangan mencoba membunuhku lagi, Lin,” ucapnya sebelum dia bersembunyi di balik petang.
***
            Sekujur tubuh Arlina gemetar, wajahnya pucat pasi tanpa ekspresi. Kelu lidahnya tidak mampu membahasakan jiwa. Sesekali dia bersuara, hanya teriak histeris yang menggemparkan seisi rumah sakit tempatnya dirawat.
Di tempat itu, dia sering dipaksa menelan bermacam pil, mesti tidak dia suka. Selalu saja dimaki suster galak ketika dia menolak. Kulitnya sering bersentuhan dengan jarum suntik berisikan cairan penenang, mana kala ia berontak tak terkendali.
Dia kerap ditanya hal-hal aneh, kata Gema, yang bertannya adalah seorang dokter. Maka dia diminta untuk menjawab saja.
“Arlina, apakah Arlena itu temanmu?” tanya seorang pria dengan pakaian putuh sebagai baju kerjanya.
“Ssstt...diam, aku tak ingin dia datang.”
“Apa Arlena itu menakutkan?” tukas pria itu.
“Kau ini, kubilang jangan sebut namanya, nanti dia bangun,” pintanya pada dokter.
“Aku bisa membunuhnya, tapi kau ceritakan dulu, seperti apa dia?” bujuknya.
Arlena selalu ada di kepala wanita itu, sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia sendiri tidak tahu dari mana Arlena berasal. Yang jelas dia muncul tiba-tiba dari balik tanah di belakang rumahnya. Waktu kecil, ia sering menemaninya bermain boneka. Katanya dia tak punya teman, sehingga menemani Arlina yang juga kesepian. Jika dipandang, wajahnya sama seperti wajah Arlina, olehnya dia menyematkan nama Arlena untuk gadis kecil yang serupa dengannya.
“Arlena tak suka gelap, dia juga tak menyukai cahaya yang terlalu terang. Jadi aku menyalakan lentera setiap kali aku ingin bermain dengannya,” jelas Arlina dengan polos.
Pantas saja Arlina terganggu jiwanya. Baru-baru ini, tersiar berita di surat kabar. Pembunuhan sadis yang dilakukan seorang ibu kepada salah satu putri kembarnya. Orang tua tunggal itu membunuh lantaran tak mampu menafkahi kedua putrinya. Simpel saja, dia hanya mengubur bocah berumur enam tahun di kebun belakang rumah, setelah memberikan obat tidur pada minuman anaknya. Peristiwa ini, baru terkuak setelah si ibu merahasiakannya selama tujuh belas tahun.
 Di ambang pintu ruang Arlina diasingkan dari keramaian, Gema datang dengan serangkaian mawar.
“Apa kabar, Sayang?”

Semarang,  21 Maret 2016 

Cerpen Wanita Pemilik Rambut Bersarang Hantu



Wanita Pemilik Rambut Bersarang Hantu
Oleh: Dhani Susilowati

            Aku mengingatnya lagi. Wanita yang bersarang hantu di setiap helai rambutnya. Ya, aku pernah mendekap erat tubuhnya di sebuah ranjang yang bertabur bunga. Senyum timbul di antara bibir merahnya yang lembab. Aku tak menciptakan noktah yang merusak kesuciannya. Meski hubungan kita halal lantaran akad pagi tadi. Gelap menenggelamkan sorot matanya. Aku hanya mendekapnya semakin erat hingga kami terlelap.
            Istriku masih sangat muda waktu itu. Pipinya sering kali kemerahan ketika hawa dingin mulai bergesel dengan kulit cokelatnya. Terlebih saat aku menuturkan namanya, Nike. Dia memang gadis desa yang kerap bersentuhan dengan sayur-mayur hasil tanah Dieng. Namun setelah menikah, dia tak lagi membantu ayah dan ibunya bertani.  Kami pindah di kota kelahiranku, Semarang. Ibuku telah menyediakan rumah tepat di samping rumahnya.
            ***
Aku mendekap potret kita. Kala itu kau terlihat anggun dengan kebaya putih dan aku tampak gagah dengan kemeja yang serasi dengan warna kebayamu. Aku masih mendengus semerbak bunga yang mengisi seluruh ruang. Memori itu menyeruak menembus dinding pembatas kenangan dalam benakku.
Sebelum menikah denganku, dia gadis kecil yang amat malang. Wajahnya kumal, rambutnya gimbal hingga tak bisa disisir oleh ibunya. Upacara ruwat acap kali ingin dilakukan, namun lagi-lagi istriku tak membuat permintaan yang masuk akal.
“Aku mau menikah dengan Mas Darma, Bu!” pinta gadis kecil berumur dua belas tahun. Ini mustahil. Bahkan aku hanya sekali berpapasan dengannya di Telaga Warna ketika diajak Nenek dan Paman Aji berlibur. Lagipula umurku baru tiga belas kala itu.
            Rambut gimbalnya dibiarkan tumbuh tanpa pernah dicukur barang sehelai. Rieke hanya menutup mahkotanya dengan sehelai kain. Rambutnya tertutup, begitupun dengan kepribadiannya. Ia sangat tertutup dan keras kepala. Hampir tak ada yang mau berteman dengan gadis aneh berbau mistis itu. Namun Nike tak pernah sepi, dia mempunyai banyak teman dalam dunianya sendiri. Teman-temannya itu memiliki ruang khusus di setiap helai rambut gimbalnya.
            Dua bocah kecil berkepala botak meminta Nike untuk mengejarnya. Ia sangat bingung, bocah pucat itu kadang-kadang menghilang terlampau cepat dari pandangan mata. Lalu tampak kembali, tawanya terbahak. Tempo hari, wanita cantik paruh baya meminta untuk mendengarkan senandungnya. Rambutnya hitam tergerai. Mereka duduk di dahan pohon belakang rumah Nike. Ayahnya hingga kehabisan cara untuk mencari. Ibunya pucat pasi khawatir kalau-kalau dedemit keparat itu membawa puterinya pergi.
            Setelah orang tuanya mengabaikan permintaannya untuk menikah, Nike sakit keras selama dua tahun. Sekujur tubuhnya panas ketika malam ataupun siang. Gimbal di rambutnya semakin menjadi. Resep dokter tak mampu memulihkan keadaannya. Orang tuanya tak kehabisan akal. Mereka mendatangi rumah orang pintar yang biasa disebut dukun di dataran tinggi Dieng.
“Anakmu bisa saja sembuh,” katanya sambil komat-kamit membaca mantra.
“Lantas bagaimana carannya, Mbah?” tannya ayah Nike penuh harap.
“Nikahkan anakmu!”
Atas resep dari dukun setempat, orang tuanya mengiyakan permintaannya.
            Istriku menjelma layaknya wanita yang bermahkota baru, sejak upacara ruwat dilangsungkan bersamaan di hari akad nikah kami. Prosesi sakral itu dilaksanakan di Batu Tulis yang terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Sesaji yang tertata rapi. Musik gamelan klasik yang membuatku bergidik. Aroma kemenyan yang menyeruak. Helaian panjang yang menjadi sarang setan itu, dicukur perlahan. Aku sempat melirik wanita itu. Memerah pipinya, buih-buih bening menyelinap dari penjara matanya.
            ***
            Pagi itu, mentari sudah mulai silau jika kupandang dari jendela kaca. Aku tergesa menyiapkan kemeja yang hendak kukenakan untuk sidang skripsiku. Senyum khas istriku kembali menyelinap di antara jiwa yang tergesa.
            “Wah suamiku sudah mandi, lihatlah kulitnya putih sekali.” Dia memuji. Aku diam saja, justru aku ingin enyah dari pandangannya.
            “Sayang ini kemejanya, pakailah. Sini biar kubantu kau mengenakan dasinya!” dia selalu memperlakukan aku layaknya raja.
Jika bukan permintaan terakhir nenek, mungkin aku tak akan nikah muda. Itulah mengapa aku acuh pada istriku. Lagipula dia yang mengandaskan kisah asmaraku dengan Vega, kekasihku. Sejak tahu aku sudah menikah, Vega menghilang entah kemana. Bahkan tak ada kata-kata tanda berakhirnya hubungan kami.
Vega yang selalu terlihat molek ketika mengibaskan rambutnya. Paras ayu yang siap menggoda setiap pria. Entah pria berkacamata yang rajin membaca di perpustakaan kampus ataupun mahasiswa yang terkenal brutal sekalipun. Ya, aku pernah menjadi kekasihnya, mungkin masih menjadi kekasihnya hingga saat ini.
            Itulah, hingga aku semakin membenci wanita yang selalu menyiapkan sarapan untukku. Kadang aku mencari alasan untuk sekadar tak mau makan masakannya. Kerap kali aku berdalih pulang malam untuk mengerjakan tugas agar tak melihat wajahnya, padahal aku hanya mondar-mandir di kampus saja. Aku tahu pasti wanita itu menunggu sambil menyiapkan makan malam untukku, tapi sering kali aku langsung mandi dan tak sedikitpun melirik menu yang telah tersaji.
            Di hari ulang tahunku yang ke-22, aku sengaja tak pulang. Sedari tadi aku menunggu Vega di kedai kopi, tempat aku menyatakan perasaanku kepadanya. Tentu setelah aku menerima balasan atas pesan yang ku kirimkan tempo hari. Hingga larut, kekasihku tak kunjunng menghampiriku. Kuputuskan tetap menunggu sambil menikmati gemerlap lampu bar. Aku enggan pulang, bertemu wanita itu hanya membuat api di dadaku tersulut berkobar.
            Dering ponselku membuyarkan lamunan. Kuraih cepat. Aku kira kekasihku, tapi lagi-lagi nama wanita itu, wanita yang masih tak ingin kusebut istri, tertera di layar ponsel pintar.
            Sayang, tak ingatkah hari apa ini?
            Mengapa kau tak pulang hingga larut begini? Sayang apa kau baik-baik saja?
            Suamiku, aku menunggumu.
            Mas Darma, kau di mana? Biar aku menyusulmu.
Kepalaku serasa terbelah dua membaca pesan singkat itu. Kuputuskan untuk mengabaikannya. Lalu kedapatan ada pesan masuk dari nomor yang berbeda.
Aku tak bisa datang malam ini.
Sial! Darahku serasa menembus dinding vena yang membendungnya. Kemudian aku menonaktifkan ponsel dengan paksa. Lalu menunggu hingga jam digital yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukan pukul tiga pagi. Bukan apa-apa, aku hanya tak mau bertemu dengan wanita itu.
            Sayangnya aku salah. Ternyata waktu tidak mampu melelapkannya. Ketika kubuka pintu, ia lekas menubrukku. Pelukan hangat yang selama ini selalu kuhindari. Dia mencemaskanku terlihat jelas dari sorot matanya.  Aku masih menatapnya kali ini, tatapan yang selalu ku usir pergi. Wanita itu merawat tubuhku, memapah dan membaringkan badan besarku di ranjang. Kali ini aku membiarkan tangan yang biasanya tak pernah kuizinkan untuk menyentuh setiap sisi dari jiwaku. Aku menatap nanar, yang aku lihat hanya gelap sepekat kopi hitam. Kami terlelap hingga cerah menerobos celah jendela kamar kami.
            ***
Aku terjebak dalam ruang yang kuciptakan sendiri. Puing-puing kenangan yang masih tersisa di benakku sulit tersapu oleh waktu. Senyumnya. Lesung di pipinya. Benar-benar masih terpatri di kepala. Pernah satu pagi aura di hatinya benar terlihat nyata. Sangat berbeda. Istriku bergumam menadakan sebuah lagu tanpa membuka bibirnya. Entah kenapa aku bahagia pula pagi itu. Tak lagi memasang wajah malaikat Malik pada istriku. Malah sering aku menarik bibirku dan menciptakan senyum setiap melirik ke arahnya.
            “Kenapa kau tampak sangat bahagia?” tanyaku.
            “Tidak Mas, aku hanya senang dengan musik ini.” Dia masih saja tersenyum, kali ini sambil memaut perut dengan tangannya.
            “Apa kau hamil?” tebakku mulai curiga dengan gelagatnya. Kini kembali kupasang wajah seperti biasanya. Kaku. Dia terdiam sejenak, lalu kembali melontarkan kata.
            “Belum Mas, tapi aku masih berharap bisa mengecup bibir malaikat kecilku dan menidurkannya suatu saat nanti.”
            “Jangan bermimpi,” tukasku sembari berlalu.
            ***
            Sidang skripsiku usai dengan penolakan yang sarkastik dari seorang dosen. Tubuhku terkulai lemas. Hampir saja aku kehabisan napas. Saraf-saraf yang menyatu padu di otakku serasa terhempas. Aku keluar dari ruang jahanam itu dengan senyum getir yang kupaksakan di bibir gerauku.
            Kembali timbul wajah istriku, seperti gelap yang menyelimuti hari. Aku melihatnya membiarkan air mata itu terhambur dari jeruji yang ia pasang sendiri.
“Kenapa kau? Tak usah mengharap belas kasihku!”
Dia menimpali dengan senyum khasnya, “Aku tidak apa-apa, Mas. Bukan belas kasihan yang aku harap tapi cinta tulus darimu yang selalu aku nantikan sejak tiga tahun pernikahan kita.”
 “Aku memang punya cinta yang sangat tulus tapi bukan untukmu, jangan mimpi,” sahutku dengan nada yang sengaja aku tinggikan.
            Bahkan aku sudah memikirkan cara menceraikan wanita itu sejak hari mulai terang hingga malam menjelang. Memang telah kurencanakan pernikahanku bersama kekasihku diam-diam. Kami kembali menjalin asmara sejak janjiku untuk menceraikan wanita yang menyandang status istriku. Lalu kupaksakan lidah keluku untuk mengucap kata yang paling dibenci Tuhanku. Talak.
            “Akhirnya kamu benar-benar mengatakannya, Mas.” Dia menundukkan kepala seolah menyembunyikan basah di pipinya. Aku tak lagi mampu berbahasa.
            “Besok pagi aku akan pulang ke rumah Ibu, terima kasih, Mas. Kamu sudah mengajarkanku untuk bersabar juga cara menafkahi diriku sendiri, lahir ataupun batin,” wanita itu beranjak memalingkan diri dariku. Ya, wanita yang dulu bersarang hantu di setiap helai rambutnya.
            Lalu kubiarkan kenangan itu menguap bersama embusan napasku. Meskipun ingatan tentangnya masih lekat di saraf otakku. Namun, dia tak lagi menjadi bagian dalam masa depanku. Tak lain, ia hanyalah sepenggal kisah dalam bingkai masa lalu.
Seorang lelaki yang tak pernah ku lihat wajahnya, mengetuk pintu rumahku, tepat pada Minggu pagi saat aku tengah bersantai. Tapi dari baju yang dikenakan, aku tahu dia petugas pos. Dari Wonosobo, katanya. Kali ini aku benar-benar tersentak.
Selembar kertas putih ini, bertuliskan tinta kematian. Wanita yang pernah kusia-siakan tengah berduka. Gumpalan daging yang pernah bermukim tiga bulan di rahimnya, luruh bersama pendarahan hebat. Janin itu, lalu diangkat ke surga. Membaca rangkaian kata itu, seketika urat nadi di leherku seperti putus terhunus jenawi.
Aku akan mencari anak kita di Surga, Mas. Meminta cinta darinya.        



Semarang, 03 Januari 2016

Puisi Jendral Kenanga

Jendral Kenanga
Oleh: Dhani Susilowati

Anyir menjelma bebauan kenanga
Noktah-noktah merah dihias taman bunga
Jendral, kau sembunyi di mana?
Apa kau menyelinap di lembar sejarah?
Atau mungkin telah punah

Jendral, kau sembunyi di mana?
Sejarah masih bungkam jika kutanya
Kau bernyawa
Selamatkan istana
Tapi apa kau tak bernama?
Hingga sejarah lupa

Purwodadi, 10 Agustus 2016

Puisi Di Antara Sajak Malam

Di Antara Sajak Malam
Oleh: Dhani Susilowati

Gelap menjadi kidung pertemuan
Di antara percik air dan embusan angin
Hitam mulai menggerayah
Menyisakan nurani-nurani yang patah
Lantunan kalam
Menjadi sajak penghias malam
Penyatu keping harapan
Pulang
Pulang, Sayang
Dia marah pada awan
Yang enggan mengirimnya lewat hujan
Dia marah pada hujan
Yang enggan membawanya ke lautan
Dia pun marah pada ombak di lautan
Yang enggan mengantarnya ke tepian
Lalu di mana dia disembunyikan?

Semarang, 01 September 2016

Puisi Perihal Kenangan

Perihal Kenangan
Oleh: Dhani Susilowati

Musim masih berhias tanda tanya di akhirnya
Lampu taman berkedip serupa kunang-kunang
Bincang si tua dan sastrawan
mencemari atmosfer jelang petang
Yang kuherankan senja tak berpapasan di taman
Barangkali senja masih di pelukan Alina
Kukira
Sebagai ganti, Tuhan hadirkan hawa kenangan
Ya, anyir tetap bercumbu
Bersama si  tua dan sastrawan
Dua kawanan beda sudut pandang
Mulai berceloteh perihal kenangan
Seribu persoalan
luka, tawa, rindu lalu cemburu
Bergelut menjuarakan makna
Kau tahu siapa yang menang?
Dia adalah kenangan

Semarang, 18 Mei 2016

Resensi Novel Jatisaba

Atas Nama Pahlawan Devisa
Oleh: Dhani Susilowati


Novel Jatisaba
Judul     : Jatisaba
Penulis  : Ramayda Akmal
Penerbit : ICE 
Cetakan : Pertama, Februari 2011
Tebal     : iv + 340  halaman
ISBN     : 9789791852685


          Fenomena permasalahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan sindikat perdagangan manusia seolah telah bersahabat dengan telinga. Reporter berita di acara televisi sibuk berkoar perihal nasib pahlawan devisa. TKI tidak lagi mendapat pekerjaan aman dengan gaji yang besar, tetapi kian hari pekerjaannya menjadi momok yang memicu tindak kekerasan, bahkan tak jarang berujung kematian.
            Oleh Ramayda Akmal, problematika semacam ini, dimanfaatkan sebagai ladang mengeruk imajinasi berbarengan dengan penyampaian faktual berdasar riset. Ramayda dalam novel ini memaparkan potret realita sosial di balik kedok pahlawan devisa. Di tangan penulis kelahiran Cilacap, permasalahan rumit  yang bersarang di masyarakat dikuliti secara tuntas dengan pemikiran yang cerdas.
Dengan segala miniatur persoalan sosial, penulis mengisahkan tokoh yang dielukan sebagai pahlawan devisa begitu dekat dengan ajalnya setiap kali mereka hendak melawan ketidakadilan. Ketidakberdayaan mereka atas hukum berawal dari proses legalisasi TKI yang tidak terpenuhi.
Bahkan mereka rela membiarkan batinnya diperbudak uang karena mereka berangkat dari kemiskinan. Tangan-tangan mereka yang tak berdosa dipaksa mengedarkan narkoba. Tubuh anggun wanita yang mestinya tertutup di keramaian dibiarkannya terbuka. Lalu, atas permintaan siapa para TKI berlaku tak semestinya jika bukan karena menyelamatkan hembusan napas dari hidungnya dan detak di jantungnya? Tak jarang, mereka pulang ke tanah kelahiran hanya sebatas nama.
            Pantas saja novel Jatisaba menjadi novel unggulan pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2010. Pasalnya cerita yang diangkat oleh penulis benar-benar mencerminkan realita kehidupan yang nyata di tengah paradigma sosial masyarakat Indonesia. Tokoh yang diciptakan oleh Ramayda Akmal dalam novel Jatisaba seolah-olah membuka topeng kehidupan TKI yang mengatasnamakan pahlawan devisa di medan pertempurannya.
Kamu akan menemukan tokoh Mae yang dikisahkan sebagai penyalur TKI secara ilegal. Kamu pun pasti tersihir dengan lika-liku penjalanan hidupnya. Tindakan lihai seorang calo TKI memanfaatkan kenangan di kampung halamannya untuk mengeruk tumbal yang akan bertukar menjadi sumber penghidupannya. Meskipun setiap ia berkata semua hanyalah kebalikan dari kenyataan pahit yang dialaminya di negeri antah-berantah.
Lalu, kupastikan kau akan geleng-geleng kepala sembari menyumpahi sistem demokrasi di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh penggambaran praktik money politic di Desa Jatisaba yang sengaja dipadukan dengan permasalahan ketenagakerjaan. Gencarnya kampanye pemilihan kepala desa pun berperan besar dalam upaya penyelasaian misi Mae di Jatisaba.
Suasana yang demikian, dimanfaatkan oleh tokoh Mae untuk menjerumuskan orang-orang terdekatnya di Jatisaba dengan modal kenangan. Tentu saja, meskipun ada keraguan dan kekhawatiran menjadi TKI, akan tetapi iming-iming memperoleh penghidupan yang layak untuk masyarakat desa yang dilanda kemiskinan menjadikan calon tumbal-tumbal Mae tertarik untuk mengikuti tawarannya.    
Konflik sosial khas masyarakat desa yang dihadirkan penulis dalam novel ini menjadi semakin menarik dengan imbuhan bahasa Jawa khas masyarakat Cilacap yang disisipkan dalam narasi maupun dialog antartokoh. Seperti kutipan berikut, “Mereka orang kita, Mae! Malim mencegah langkahku yang mulai terbirit-birit. Ternyata benar. Mereka dere dan jago-jagoku.” (Akmal, 2011:4). Gaya bercerita penulis benar-benar kuat dengan menghadirkan kata-kata yang berhasil memicu imajinasi pembaca.
            Novel ini tidak melulu membahas permasalahan TKI yang kian hari kian pelik dalam balutan persengketaan politik lokal. Diselingi dengan romansa, penulis berusaha menambah permasalahan lain yang tidak kalah menguras air mata. Sambil menikmati perjalanan hidupnya yang terus di ambang keputusasaan, Mae menemukan sesosok mata elang yang membangkitkan niatnya untuk mengais kenangan. Gao, sumber cinta dari masa lalu menyelinap melalui batas-batas kenangan yang telah dibangun sekian tahun lamanya sejak ia meninggalkan Jatisaba. Namun, kisah cintanya juga tak luput dari derita.
Terlepas dari penuturan Ramayda perihal kisah klasik pahlawan devisa tingkat desa, dalam novel ini terdapat satu halaman tanpa tinta. Kesalahan teknis pada halaman yang seharusnya tertulis angka 34 cukup meresahkan pembaca karena menyebabkan terputusnya ikatan pembaca dengan alur cerita, meskipun hanya sesaat.
Namun demikian, pendapat para ahli sastra yang dibubuhkan dalam sampul novel menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pembaca untuk menjamah rangkaian cerita hingga tuntas. Seperti pernyataan Ahmad Tohari dalam sampul depan, “sebuah potret realita sosial yang dibuat dengan lensa tajam dan cerdas. Karya penulis muda berbakat ini mengungkap sisi lacur yang samar di tengah perubahan sosial kita. Mengesankan!”

Senin, 05 September 2016

Puisi Siapa Kau Siapa Aku


Siapa Kau Siapa Aku
Oleh: Dhani Susilowati

Kau adalah aku
Dalam puing ranum kebahagiaan
Serpihnya tak ubah seperti beling
Bening lalu merah
Jika mengena hati

Aku adalah kau
Dalam benteng kurun waktu
Antara terang dan petang
Dibingkai nyanyian
Dua pasang mata menyala

Kau tentulah aku
Aku pastilah kau
Kau tidak di sini
Aku ada sebelum ini
Kau lalu
Aku pun begitu


Semarang, 25 Mei 2016